Bagaimana Boediono Menghadapi Dinamika Politik ?
Penampilan perdana Boediono di panggung politik sebagai cawapres SBY, yang dideklarasikan di Sasana Budaya Ganesha Bandung 15 Mei 2009, rupanya memukau banyak orang. Salah satunya adalah Aboeprijadi Santoso, wartawan senior yang sekarang bekerja untuk Radio Nederland Wereldomroep.
“Secara pribadi saya nggak kenal (Boediono), bahkan saya melihat pertama kali secara jelas itu di televisi. Tapi saya kira banyak orang seperti saya yang pertama kali melihat di TV dan terkesan, karena pemunculan beliau itu momentum yang bagus sekali, saat deklarasi sebagai cawapres di Bandung,” kata laki-laki berkacamata yang biasa disapa Tossi ini.
“Saya kira banyak orang terkesan pada momentum, itu momentum emas. Yang terpancar itu kejujuran, kesederhanaan. Dalam arti, saya ini ekonom dan saya terima menjadi cawapres karena akan menghabiskan etape terakhir dalam kehidupan saya, dan itu konsisten,” lanjut Tossi, di Salihara.
Tossi mengaku kaget saat SBY memilih Boediono. Dia menilai cara berpikir SBY itu sangat terobsesi dengan kekhawatiran dalam menghadapi krisis ekonomi dunia. “ Saya pikir dia memilih orang partai, dan bukan orang yang “sama”, sebab SBY punya pengalaman memilih orang yang berbeda. Beda suku, beda temperamen, beda gaya, Jusuf Kalla kan ban serep yang menggelinding sendiri. Dalam ini saya agak kecewa karena SBY memilih Boediono. Bukan karena Boediononya, tapi karena memilih orang yang sama. Sama Jawa-nya, sama-sama berlatar belakang akademis, dan sama karakternya,” kata Tossi yang baru dua tahun kembali bermukim di Jakarta.
Kesan yang campur aduk antara terkesan dan kaget soal pemilihan Boediono, memicu pertanyaan bagi Tossi, apakah Boediono mampu mengatasi dinamika politik yang menghadangnya kelak. “SBY hanya mikir krisis ekonomi dunia, padahal ke depan ini bukan hanya ekonomi. Dari setiap krisis imbas politiknya besar, apakah Boediono mampu (mengatasi) ?” tanya Tossi.
“Ada dinamika politik di depan. Ini satu-satunya pemilu yang tidak memenangkan kelompok Islam, kecuali PKS, yang meskipun menang tapi gak banyak, dan ada Islam yang lain juga selain PKS. Dengan hormat pada Pak Boediono, saya ingin bertanya bagaimana beliau akandealing politically dengan kawan dan lawan nanti”.
Tossi berpendapat, Boediono harus mampu mengkoordinasi sejumlah menteri yang berasal dari berbagai partai, yang posisinya bisa mengganjal atau membantu. “Saya gak tau mungkin beliau mampu secara politik, tapi kita gak kenal latar kemampuan politiknya dan gak kenal jaringan politiknya. Kita kenal dia sebagai akademisi, dan sebagai akademisi yang dingin tidak meledak-ledak. Buat saya menarik (mencermati) bagaimana seorang akademisi berkampanye. Saya kagum dan hormat pada momentum pertamanya di Bandung, dimana dia menyampaikan kejernihan berpikir dan kejujuran nurani,” pungkas Tossi.





Komentar
5 Komentar
kita semua menunggu para calon petinggi untuk membuktikan karyanya…
kami bangga dengan bapak..
semoga cita2 bapak tercapai..
untuk mensejahterakan Rakyat..
Ass. Wr. Wb.
Pak Boediono yang saya hormati,
Saya bersimpati terhadap Bapak dan Bapak SBY dengan kejernihan berfikir, kesantunan berbicara, dan kemampuan “Mastery” di dalam mengelola tekanan dan isu. Saya berpendapat seyogyanya para tim sukses tidak mencederai kondisi ini dengan menanggapi atau mengcounter tekanan dengan salah. Program dan Pandangan SBY BerBoedi sesungguhnya sangat konkrit dan sistematik, saran saya ada suatu Practical Winning Solution yang dipaparkan yang bisa dipahami oleh rakyat sehingga tidak menimbulkan keraguan mengenai komitmen kemakmuran rakyat.
Mengenai halnya Pendidikan sebagaimana saya cermati di dalam acara debat, sebaiknya Pak Boed menghubungkan dengan konsep reformasi Pendidikan atau Kurikulum yang memakai pendekatan socio politik. Dalam hubungan dengan jati diri bangsa reformasi pendidikan dengan pendekatan ini perlu dipertimbangkan. Secara grand strategi perlu dirumuskan pendidikan kita mau kita bawa ke mana? KIta ingin menjadikan anak bangsa ini sebagai masyarakat yang bagaimana? Apakah kita akan membuat kurikulum kita kembali kepada konsep Neobehaviourism dalam mana nilai-nilai bangsa serta kebiasaan turun-menurun kita turunkan kepada generasi kita dan dengan memfokuskan lebih kepada pengetahuan dan kecerdassan intelektual dengan nilai-nilai tradisional kita. Apakah kita bawa kepada konsep reconstructionism dalam mana kita wujudkan generasi Bangsa menjadi generasi yang egaliter dan terampil? Sehingga fokus terhadap “skills” dan kompetensi kita kedepankan? Atau kita bawa kearah Progresivism dalam mana anak didik dapat menemukan sendiri teori-teori yang dipelajari, memecahkan masalah, kritis, dan inovatip. Yang pertama dapat menghasilkan anak didik yang memhami dan mempertahankan nilai-nilai budaya bangsa, cerdas, tetapi belum tentu trampil, egaliter, dan inovatip. Yang kedua dapat menghasilkan anak didik yang egaliter dan tidak hanya trampil tetapi juga kompeten, namun nilai-nilai tradisional bangsa akan tergeser dan bahkan dapat ditinggalkan. Yang terakhir dapat menghasilkan anak bangsa yang inovatif, kreatif, dan progresif, serta bertindak “out of the box” tetapi jati diri Bangsa yang sesungguhnya bisa lebur tak dapat mereka ketahui sendiri dan mengarah terhadap kondisi liberalisme.
Saat ini kita dipersimpangan jalan, ketika Kurikulum sudah melepaskan kreativitas terhadap sekolah dengan standard yang baik dan tidak dipungkiri merupakan konsep berbasis kompetensi, tetapi kemudian kelulusan ditentukan oleh Ujian Nasional yang lebih content based dan perlu dicermarti kecocokannya serta kesesuainya dengan amanat kurikulum itu sendiri dan kondisi riil pendidikan. Ketika kita ingin menjadikan anak didik yang kompeten, kita dihadapkan kepada model test tertulis satu waktu yang bisa menghakimi proses 3 tahun dan bukan tidak mungkin secara terselubung terdapat kecurangan.
Maka pendapat saya, mohon maaf kepada Bapak Profesor, kita perlu menggali kembali dan menyusun kerangka kerja pendidikan secara benar berakar kepada budaya dan nilai-nilai bangsa tetapi juga mampu menjawab tantangan masa kini serta menciptakan generasi masa depan yang sukses menghadapi masanya dan yang terpenting menjadikan bangsa ini bangsa yang besar, adil, dan makmur.
Dari ketiga pendekatan itu memungkinkan kita menggabungkan ketiganya di dalam sebuah konsep pendidikan keindonesiaan yang mampu mencapai kualitas internasional. Taruhlah seperti kisah the last samurai yang akhirnya Jepang menggabungkan the old and the the new–sehingga kerangka dasar dari pendidikan Indonesia saya usulkan menjadi Pendidikan yang mengembangkan nilai luhur bangsa, menjadikan anak didik egaliter dan kompeten (Berkemampuan secara intelektual, Ketrampilan dan keahlian, dan Perilaku luhur, adap yang santun) dan juga menjadikan mereka inovatif dan dapat memecahkan masalah sehingga menjadi diri yang berbudaya, cerdas dan kompeten, serta mampu menjadi penggerak pembangunan bagi dirinya, masyarakatnya, bangsanya, dan menciptakan hubungan internasional yang berwibawa. Sebagai perekat bangsa dan ciri keindonesiaan dan budaya bangsa sudah barang tentu Pancasila perlu diwujudkan ke dalam sebuah perilaku manusia Indonesia dengan toleransi antar umat beragama. Desentralisasi pendidikan dan otonomi daerah harus diarahkan kepada kemandirian daerah bukan pada semangat kedaerahan dan oleh sebab itu haruslah ada jaringan antar kota dan provinsi sehingga para anak bangsa ini bisa saling asah, asih, asuh dan membangun dimana saja dia berada bukan hanya didaerahnya dan juga dapat menerima anak bangsa yang berkualitas untuk membangun daerah tersebut. Benar memang pada akhirnya pemerataan kesejahteraan rakyat dengan kegiatan ekonomi yang bermanfaat akan dapat menyatukan kita di dalam jati diri bangsa yang satu. Untuk itu perlu dikembangkan perimbangan pembangunan serta didorong pembangunan infrastruktur yang memadai. Ini semua perlu generasi yang memiliki pola pendekatan pendidikan yang bisa kita pahami bersama dan produktif.
Akhirnya saya menyarankan pemikiran reformasi pendidikan dengan pendekatan sosio politik perlu didalami untuk menentukan dan menyatukan jati diri bangsa.
Terima kasih,
Selamat sukses
Supriyono,
Papua
Sukses Pak Boed, akhirnya ada lagi seorang akademisi yang maju menuju puncak Republik!
Hidup Pendidikan Indonesia!
kami juga pingin banget tahu pendapat bapak tentang politik. atau politik indonesia dimata seorang bapak boediono. apakah dalam karir bapak selama ini tidak pernah bersinggungan dengan elite politik maupun beragam permainan politik. akan ebih cerah rasanya jika kita semua tahu bagaimana bapak berpolitik. atau nantinya pak SBY akan sama memberikan proporsi pak boediono seperti dengan pak yusuf kala pada pemerintahan saat ini.
Beri Komentar