Boediono: Contoh Nyata Satunya Kata dengan Perbuatan

Dr. M. Chatib Basri

chatib-basri“Boediono adalah sosok yang bersahaja”, begitu ungkap M. Chatib Basri. Seorang yang banyak bekerja dan sedikit bicara. Ia mencontohkan bagaimana seluruh perjalan hidup Boediono, mulai dari menteri di Bappenas, kemudian Menteri Keuangan, Menko Perekonomian sampai Gubernur Bank Indonesia, waktu Boediono praktis dihabiskan untuk menyelesaikan persoalan-persoalan ekonomi yang dihadapi Indonesia. Termasuk situasi paling berat pada tahun 1998 sampai sekarang menghadapi krisis global, imbuh Chatib. “Jadi, dari segi kompetensi saya kira Pak Boediono sulit dicari tandingannya dalam hal pengalaman. Karena untuk seorang ekonom, yang penting itu adalah jam terbang.” jelas Direktur LPEM-FEUI ini.

Chatib menyayangkan adanya anggapan bahwa pengalaman politik Boediono itu nol. “Karena sebagai menteri, toh beliau harus berhadapan dengan parlemen. Menyelesaikan sebuah policy, dan berinteraksi dengan parlemen”, jelasnya lagi. Ditambahkannya bahwa: “Dalam kampanye seperti ini, banyak orang yang tidak menyangka bahwa ternyata Pak Boediono punya skill. Bahkan dalam bidang politik sekalipun”. Chatib memberikan contoh pidato Boediono di Bandung atau pada saat debat cawapres yang baru lalu, dimana banyak orang menyangka fokus dari paparan Boediono adalah semata-mata hanya persoalan ekonomi saja. “Tetapi faktanya, beliau bisa bicara tentang pemerintahan yang bersih. Beliau bisa bicara mengenai kebudayaan, pentingnya bahasa Indonesia. Kemudian pentingnya merawat dan meningkatkan kebudayaan lokal, maupun kebudayaan nasional. Ini menunjukkan bahwa sebetulnya ada pemahaman yang komprehensif mengenai Indonesia.” tegas Doktor dari Australia National University ini.

Chatib menyampaikan hal penting yang ia catat dari pernyataan Boediono sewaktu debat cawapres, yaitu hasil dari kunjungan ke berbagai daerah seperti di Medan, Pasuruan, Probolinggo, dan di Jogja. Ada satu hal yang sangat penting yang diperoleh Boediono, yaituharapan dari masyarakat bahwa, ke depan negara ini harus lebih baik. Ia menambahkan: “Dan saya kira pesan ini pesan yang penting untuk didengar oleh semua calon presiden dan wakil presiden, bukan hanya pasangan SBY-Boediono. Bahwa amanah atau harapan ini jangan disia-siakan“. “Dan kalau melihat dari pengalaman Pak Boediono bagaimana komitmennya, saya kira ini adalah proses pembelajaran yang bagus bagaimana hal ini harus dilakukan”, ungkap salah satu anggota tim sukses cawapres Boediono ini.

Chatib menjelaskan bahwa kunjungan Boediono ke ICW dan Tranparansi Internasional Indonesia kali ini memang sengaja dipilih untuk menunjukkan, bahwa tekad mengenai pemerintahan yang bersih itu sangat penting bagi pasangan SBY-Boediono. Ditambahkannya bahwa ke depan, campur tangan pemerintah akan lebih besar terutama untuk kesejahteraan rakyat. “Dan kalau kita biarkan campur tangan pemerintah terjadi tanpa ada pemerintahan yang bersih, ujungnya adalah korupsi. Dan komitmen ini, saya kira, Pak Boediono adalah gambaran satunya kata, antara apa yang diucapkan dengan apa yang dilakukan.” pungkas Chatib.


Simpan dalam bentuk pdf
Bookmark and Share
Kosong

Silahkan login untuk dapat memberikan rating artikel.

Komentar

24 Komentar

DEDEN - June, 25 2009 @ 10:17

kalau memang pak budionon tidak ada tandingannya dalam maslah ekonomi,,apalagi pengalaman beliau dari 98 sampai sekarang (carier budiono),,justru kenapa pada saat budiono memegang peranan penting dalam ekonomi khususny rentang wkt 98-sekarang,ekonomi negara kita hancur berantakan,,jangan suka boong lah,,ingat utang negra kita saat ini mengalami kenaikan lebih dari 300%,,biaya bt kuliah ma skulah jadi jauh lebih mahal..jadi apa yg hrs di banggakan??/ BBM trus mahal,,biaya hidup mahal,,,pendapatan masyarakat menururn (dibanding kemampuan daya beli)..

Komo markomo - June, 25 2009 @ 15:17

Saya sangat tidak setuju dengan pernyataan saudara Deden.Jangan memandang suatu permasalahan dari sudut pandang yang sempit.Saya bukan pendukung dari bapak SBY-budiono ,namun saya berbicara dalam konteks analisa dan fakta.Sejak jatuhnya rzim ORBA dan digantikan dengan rezim Reformasi memang negeri ini ibarat telur diujung tanduk.Semua aspek jatuh,dan tentunya eknomi yang paling parah.Coba anda berpikir lebih matang, jika pada waktu itu negeri ini ditangani “bukan oleh orang yang berkompeten” sudah sejak dulu negeri ini mati.Tak bisa menghidupi rakyatnya.Seharusnya kita bersyukur bersama, karena sampai saat ini Yang Maha Kuasa masih memberikan Continuitas untuk negeri ini,jauh memandang negeri2 di benua Afrika sana yang bernasib lebih malang dari negeri kita.Marilah kita syukuri dengan cara mulai berintrsopeksi diri dan “MENGHARGAI” jerih payah orang orang yang mati matian mempertahankan kelangsungan negeri ini.Mengkritisi boleh,namun tetap dalam koridor introspeksi…. saya juga heran, khsusnya kepada Capres nomor urut 1…. kenapa selalu membangga banggakan tahun “Kepemimpinannya” yang membanggakan kondisi ekonomi waktu itu,… sampe masuk iklan TV lagi,,, apa gag nyadar,dulu siapa aktor yang bikin periode kepemimpinanya seperti itu (dalam bid.Ekonomi)…. pak bud juga khan…. makanya saya sangat yakin dengan statement, Pak Bud adalah orang yang paling berpengalaman dengan ekonomi negeri ini, apa yang baru2 yang bisa nya cuma ngomong dan ngritik pedas tu bisa menggantikan… klo bisa ga pa2,bagus dah.. tapi klo gag….benar2 orang2 munafik itu namanya…. sekian.terimakasih. (semoga gag kejadian kaya kasus prita lagi :D)

Mata - June, 26 2009 @ 06:39

Klu menurut anda biaya hidup sekarang makin sulit. Berati anda benar2 orang picik. Yang mengalami kesulitan ekonomi bukan cuma negri ini aja. dimana2 semua juga susah. Klu emang menurut anda bpk. Budiono ngak berhasil. Mau anda apa?????
Bapak elu aja yang jadi presiden!!!!!!!!!!!!!!

Bugs - June, 25 2009 @ 10:44

saya kira pak budiono memang orang yang tepat dalam menangani ekonomi saat ini. dampak ekonomi dari masa orde baru (1998), memang sangat sulit untuk diatasi oleh siapapun, tapi orang tidak boleh berhenti berusaha. Tapi dengan dengan stabilitas ekonomi politik dan keamanan semoga masalah-masalah yang tersisa dapat teratasi, karena pada prinsipnya semua harus berjalan bersama-sama (Poleksosbud HanKamNas).Dan Indonesia Semakin Jaya.

Kasan - June, 25 2009 @ 14:42

Saya mencoba dari kacamata lain, bagi seorang Boediono punya 18M dan umur >50th yang ngaku Islam koq saya belum mendengar beliau Haji ya..?, 18M lho!!. Yang saya dengar malah beliau mau diajak Presiden PKS Umroh hanya P. Boediono lho… lha Ibuknya mana??? mungkin ini yang jadi polemik di media akhir2 ini kalau Bu Boediono itu Katolik, kalau memang bukan ya jangan hanya mendoakan orang yang mendeskreditkan, tapi BUKTIKAN..!!!! kalau perlu sak keluarga. Kalau sama SBY aku nggak ragu tapi saya sendiri jadi ragu kalau harus memilih Boediono…..

Titip sekalian buat Ibu SBY dan Ibu Boediono, mbok mulai pakai kerudung selendang kalau tampil di depan umum, walau tidak harus tertutup sama sekali, biar hati rakyatnya ini jadi adem dan manteb kalau mau menang dalam arti sebenarnya.

F3 - June, 26 2009 @ 04:03

Urusan agama/kepercayaan adalah urusan manusia dengan Tuhannya, hanya Tuhan yang tahu. Saya tidak tahu siapa bu SBY siapa bu budiono. Tapi saya yakin Tuhan tahu siapa mereka, tanpa mereka harus tunjukkan kepada orang lain tentang kualitas spiritualnya.

Mata - June, 26 2009 @ 06:44

Coba dong pisahkan politik dengan agama. Kapan Indonesia bisa maju klu semua orang seperti anda!!!!!!!!

wira - June, 27 2009 @ 06:54

skill atau kecerdasannya untuk masyarakat..
ibadah atau ketidak-alim-annya (entah kita yang berhak menilai tau bukan) untuk dirinya sendiri.. urusannya sama yang beliau sembah..

Saintman - June, 25 2009 @ 14:54

Selamat Siang Bung,

Bangsa Indonesia adalah bangsa yang belum dapat bangga dan menghargai tokoh2 dalam negaranya.Kita masih hidup terkotak-kotak,kadang-kadang seperti kerbau dicocok hidungnya,jika elite politik bilang A bagus dan B jelek maka ikut2anlah orang berpendapat demikian.Buktinya dalam kampanye capres ini, para pendukung saling hujat menghuja,saling menjelekkan.Tak jarang capres yang kebetulan tidak didukungnya menjadi sasaran caci maki.Apa yang dengan bangsa ini? Kog suka menghina memimpin bangsa sendiri.

Menurut saya setiap orang tidak ada yang sempurna,termasuk Pak Boediono yang juga adalah manusia biasa.Tapi menurut pendapat saya beliau pantas kita hormati sebagai salah satu ekonom yang handal di negeri ini.Terlepas dari kegagalan dan keberhasilannya.Terima kasih.

Mama Adel - June, 25 2009 @ 15:46

@ Pak Kasan : emangnya kenapa klo bu Boediono Katolik? Yang jelas mereka punya rasa nasionalis yg tinggi, tdk seperti Prabowo yg pernah jadi warga negara Jordania? Benar2 warga negara yg bermental bobrok!!

Leo - June, 25 2009 @ 16:36

@Kasan: ampun, mudah2an Allah mengampuni anda yang membeda2an manusia hanya karena agama (apalagi isu tersebut tidak benar). Karena dimata Allah, manusia itu semua sama, yang berbeda amal ibadahnya. Maju terus pak Boed!!

Agus Wandy - June, 25 2009 @ 16:47

@kasan : jangan mainkan politik dalam ranah Agama, saya seorang Muslim, tapi miris melihat kenyataan, orang hanya dilihat dari pakaian/atribut yang dikenakan (yang mungkin tidak berciri muslim), yang penting adalah perbuatan, Islam mengajarkan kita untuk menghargai sikap dan pandangan orang lain, asal itu tidak mengakibatkan kerugian.. (jangan sampe titelnya Haji tapi korupsi uang rakyat)

ngelmes.. - June, 25 2009 @ 17:08

saya sih, berpandangan berbeda….
coba sy tanya kpd rekan-rekan sekalian.?
apa prestasi budiono selama ini.?
jk ada apa prestasi itu bermanfaat.?
apa sih yg ada dibenan sby, mengapa memilih budiono.?
nota bene bukan dari partai…
apa budiono hanya akan dijadikan boneka.?
mirip seperti pemerintahan suharto..
wakil hanya boneka…

marilah sadar demokrasi, budiono belum pantas menjadi wakil presiden negri ini…

jgn malu-maluin indonesia di depan publik internasional, masak wakil presidennya tdk agrasif, meneng wae karo paman sam..

please deh, jadul bgt sih…

Mata - June, 26 2009 @ 06:50

Mengapa SBY memilih budiono????
Karena menurut sby yang pantas mendampinginya hanya pak bud. Yang lain kan pengusaha semua. Bisa2 di jual ambalat.

darmawan.p - June, 26 2009 @ 07:43

Boss,wakil kan terserah presidennya kalo harus dari partai jg kayaknya jadi susah berkembang krn ntar jadinya harus bagi2 kursi…kita coba aja yang rasanya lain barangkali hasilnya lain juga (ngga tau tambah baik atau tambah ancuur)

yanti - June, 25 2009 @ 17:11

Pak.. sebagaimana rakyat Indonesia lainnya.. saya cukup punya harapan besar pada setiap calon.

prast ketawa - June, 25 2009 @ 20:42

sekarang ini bukan maslah siapa yang jadi calon…….yang penting adalah ……setelah jadi presin dan wakil presiden …….kita dukung sepenuhnya……
ngapain juga berantem beragumen dan lain-lain …. berapa keuntungan kita mendukung pencalonan mereka….
kalo kita mendukung pas mereka dah jadi tentu sangat menguntungkan kita semua….

prast ketawa - June, 25 2009 @ 20:45

yang pasti yang berkuasa adalah rakyat ……
bukan partai……..
partai ……jangan pernah merasa berdiri menginjak rakyat……
ingat anda disangga oleh rakyat untuk memakmurkan mereka….

Tiar - June, 25 2009 @ 21:48

Pak Boed, tolong dipertimbangkan masak2 soal UU no. 13 tahun 2003, terutama soal buruh kontrak outsourcing, sangat tidak memihak buruh, tanpa jaminan, tanpa kepastian kerja. Ini sangat penting. Mohon Pak Boed bisa merevisi bila terpilih nanti.

peo - June, 25 2009 @ 23:25

@ prast ketawa : Yang berkuasa rakyat? sejak kapan? jangan cuma baca buku teori doank. coba liat realitanya, apa bener rakyat yang berkuasa?kenaikan BBM yang mau rakyat?semua UU yang dibuat DPR apa emang kemauan rakyat?????
Untuk pak budiono, bapak lupa waktu memperjuangkan ekonomi pancasila dengan pak mubyarto?kenapa sekarang malah pro-barat (kalau bapak tidak mau disebut neolib)?emang ekonomi pancasila mengajarkan untuk memprivatisasi BUMN ya??

MossackAnme™ - July, 02 2009 @ 15:01

@peo

Dalam privatisasi BUMN, yang salah siapa?
Pak Boed? Megawati? SBY? JK? Wiranto?
Kan mereka satu kabinet waktu hal itu terjadi…

Jadi, mau menuduh siapa dan yang salah siapa?

wira - June, 27 2009 @ 06:53

skill atau kecerdasannya untuk masyarakat..

ibadah atau ketidak-alim-annya (entah kita yang berhak menilai tau bukan) untuk dirinya sendiri.. urusannya sama yang beliau sembah

adi - July, 02 2009 @ 13:39

Sesuai dengan Filsafat Jawa Banyaklah bertindak dan jangan banyak berbicara……. Saya yakin Pak Boediono adalah Pemimpin Masa Depan yang diimpikan Negara ini sesuai Janka Jayabaya… Dengan Pak Boedino Indonesia akan menjadi Negara Maju mengalahkan negara malaysia.\
Maju terus Pak Boed Kami mendukung MU

MossackAnme™ - July, 02 2009 @ 14:57

Isu yang memang harus diangkat jadi prioritas memang ekonomi, karena kemungkinan sampai 2010 kita masih memulihkan diri dari krisis. 2011 baru kita akan mulai punya energi penuh lagi dan bisa bergerak.
Keputusan Pak SBY memang brilian walau sedikit mengejutkan.
Tapi terbayar dengan track record Pak Boed yang -gile nie orang- memukau, lurus tanpa konflik kepentingan, disamping intelejensianya yang sangat tinggi.
Walau saya berseberangan dengan beberapa dari 24 partai dalamkoalisi kubu SBY, tapi saya memandang dengan jernih dan melihat pasangan ini sebagai tonggak Indonesia menyongsong zaman keemasan.
Hidup Pak Boed!

Beri Komentar

 

You need to log in to vote

The blog owner requires users to be logged in to be able to vote for this post.

Alternatively, if you do not have an account yet you can create one here.

Powered by Vote It Up