Ekonomi Indonesia, Mau ke Mana?

cover

Di Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada, saya mengajar matakuliah Perekonomian Indonesia bagi mahasiswa S1. Suatu tugas yang saya nikmati. Selama di kelas ini topik yang paling menarik bagi mereka adalah: kita ini akan ke mana? Saya mengerti, mereka sebagai generasi muda tentu berminat untuk mengetahui masa depannya. Ini bukan pertanyaan yang mudah dijawab. Akan tetapi, inilah yang saya sampaikan kepada mereka.

Tujuan akhir dari kebijakan ekonomi adalah meningkatkan kesejahteraan rakyat. Bagi masyarakat awam, kesejahteraan bukan konsep abstrak, tetapi kondisi nyata yang langsung menyangkut kehidupan mereka sehari-hari. Apabila diperas, kesejahteraan yang mereka tuntut ditentukan oleh terciptanya dua kondisi mendasar.

Pertama, mereka menginginkan agar biaya kebutuhan hidup tetap stabil, khususnya untuk kebutuhan pokok seperti pangan, sandang, papan, kesehatan, dan pendidikan. Kedua, mereka menginginkan adanya penghasilan yang bisa diandalkan untuk menghidupi keluarganya secara layak dan dengan harapan penghasilan itu meningkat dari waktu ke waktu.

Tugas negara adalah mewujudkan tuntutan dasar itu menjadi kenyataan, secepatnya. Ini bukan pekerjaan mudah, apalagi kalau energi sosial yang ada lebih condong digunakan untuk kesibukan lain yang kurang mendasar. Pemerintahan yang bijak selalu menjaga fokusnya pada pemenuhan tuntutan dasar tersebut.

Diterjemahkan dalam bahasa ekonomi teknis, yang kita inginkan adalah pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan disertai dengan stabilitas ekonomi yang mantap. Pertumbuhan ekonomi, yang berarti perluasan kegiatan ekonomi, adalah satu-satunya cara untuk meningkatkan penghasilan anggota masyarakat dan membuka lapangan kerja baru. Sementara itu stabilitas ekonomi adalah satu-satunya cara untuk melindungi agar penghasilan masyarakat yang kita upayakan meningkat, tidak digerogoti oleh kenaikan harga. Pertumbuhan ekonomi dan stabilitas ekonomi, bersama-sama, adalah kunci dari peningkatan kesejahteraan rakyat.

Akan tetapi, kedua hal itu tak otomatis menjamin terciptanya kesejahteraan seperti yang kita inginkan. Masih ada satu lagi syarat yang harus dipenuhi, yaitu peningkatan kesejahteraan itu harus adil dan merata. Pemerintahan yang adil memihak kepada kepentingan rakyat banyak. Oleh karena itu, prioritas utama stabilitas ekonomi adalah menjaga kestabilan harga kebutuhan dasar rakyat (bukan rumah mewah dan Marcedes Benz), sedangkan prioritas utama di bidang perekonomian adalah mengarahkan agar perluasan kegiatan ekonomi dapat menampung mayoritas angkatan kerja kita (yang kenyataannya masih terdiri dari tenaga yang tidak terampil).

Lebih dari itu, pemerintahan yang adil menyadari bahwa ada anggota masyarakat (jumlahnya tidak kecil) yang terbelenggu oleh kemiskinan berat dan tidak mungkin melepaskan diri tanpa uluran tangan dari luar. Di sini pemerintah harus turun tangan langsung.

Jika semua ini kita laksanakan dengan baik, maka sebagian besar dari tuntutan dasar rakyat sudah terpenuhi. Kata-kata kuncinya: stabilitas ekonomi, pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan, lapangan kerja, dan kemiskinan.

Bagaimana melaksanakannya? Ilmu ekonomi dapat membantu kita dalam merumuskan langkah-langkah apa yang harus diperlukan. Namun, untuk mewujudkannya menjadi kenyataan diperlukan lebih dari ilmu ekonomi–suatu kombinasi penerapan ilmu (dan seni) ekonomi, administrasi, manajeman, politik, dan diplomasi serta ketekunan dan akal sehat.

Apa langkah-langkah yang diperlukan? Pertama, untuk memelihara stabilitas ekonomi yang sekarang sudah cukup mantap, dua hal pokok perlu dilakukan: (a) kebijakan fiskal-moneter yang berhati-hati diteruskan, dan (b) penyehatan sektor keuangan dituntaskan. Jangkar stabilitas ekonomi ini harus terus-menerus dijaga. Kelengahan membawa petaka. Pengalaman menunjukkan bahwa tindakan korektif yang terlambat jauh lebih mahal daripada tindakan antisipatif yang diambil di sini. Bebannya akhirnya akan ditanggung rakyat. Yang kurang disadari adalah bahwa inflasi itu adalah suatu proses pemiskinan.

Bagaimana dengan sasaran pertumbuhan berkelanjutan? Ada dua bidang yang apabila ditangani dengan baik dapat segera meningkatkan pertumbuhan ekonomi: (a) pembangunan infrastruktur, dan (b) perbaikan iklim investasi. Konsepsi pemerintah sekarang yang menekankan pada dua bidang ini sudah benar, tinggal menunggu pelaksanaan yang benar. Namun, itu tidak cukup. Agar memberi manfaat maksimum, pertumbuhan ekonomi itu harus mempunyai corak dan arah yang kita inginkan. Di sinilah peran dari kebijakan perdagangan dan industri. Kebijakan inilah yang akhirnya menentukan, apakah industri yang tumbuh adalah industri yang efisien dan berdaya-saing atau tidak, apakah kegiatan yang berkembang dapat menyerap banyak tenaga kerja atau tidak, apakah industri yang tumbuh membentuk struktur yang kuat atau tidak. Sayangnya, strategi industri perdagangan yang konsisten dan mengacu pada sasaran nasional yang jelas (dan bukan pada kepentingan sektoral atau, lebih parah lagi, pada kepentingan perusahaan tertentu) sampai sekarang belum ada. Pemisahan departemen industri dan departemen perdagangan memperpanjang alur koordinasi kebijakan di kedua bidang ini.

Pembangunan infrastrukur, perbaikan iklim investasi, dan strategi industri perdagangan yang jelas, apabila terwujud, akan mendongkrak pertumbuhan ekonomi kita dalam beberapa tahun mendatang ini. Namun, ini pun belum cukup. Masalahnya adalah pertumbuhan itu belum tentu berlanjut setelah beberapa tahun ini.

Dalam ilmu ekonomi dikenal konsep “potensi pertumbuhan” (growth potential), yang diartikan sebagai “batas atas” pertumbuhan ekonomi suatu negara dalam jangka panjang. Hal-hal yang menentukan potensi pertumbuhan suatu negara adalah: (a) kualitas institusi-institusinya, (b) kualitas sumberdaya manusianya, (c) sumber daya alam yang dimiliki, dan (d) kemampuan teknologinya. Faktor-faktor inilah yang menentukan apakah dalam 25 tahun mendatang pendapatan domestik bruto (PDB) per kapita Indoensia akan mendekati Malaysia atau Mali?

Dari semua institusi, yang paling menghambat pertumbuhan adalah lemahnya kinerja birokrasi. Reformasi birokrasi harus diprioritaskan. Peningkatan mutu sumberdaya manusia menyangkut dua segi pokok: pendidikan dan kesehatan. Kedua bidang ini harus melaksanakan pembaruan mendasar. Berlimpahnya sumberdaya alam bisa menajdi berkah atau musibah, tergantung bagaimana kita mengelolanya. Strategi yang jelas untuk menjaga kelestarian sumberdaya alam dan lingkungan hidup perlu dibakukan. Oleh karena itu, suatu strategi teknologi adalah kunci kemajuan bangsa. Dengan demikian, sebuah strategi teknologi perlu disusun. Dalam hal ini Pak Habibie benar. Namun hal ini tentunya disesuaikan dengan tahapan-tahapan yang ada.

Kalau kita menginginkan pertumbuhan ekonomi berlanjut dalam bilangan puluhan tahun ke depan, hal-hal yang menghambat itu harus ditangani mulai sekarang. Langkah itu harus dimulai sekarang karena hasilnya baru dapat dipetik satu dasawarsa atau lebih kemudian. Peningkatan mutu pendidikan, misalnya, baru mempunyai dampak pada potensi pertumbuhan satu generasi kemudian.

Tadi saya sebutkan bahwa urgensi keadaan yang kita hadapi menuntut agar pertumbuhan ekonomi yang terjadi segera dapat membuka lapangan kerja baru dan mengentaskan penduduk miskin dalam jumlah yang berarti. Ini mengharuskan adanya langkah-langkah ekstra, di samping semua langkah di atas.

Yang dapat dilakukan adalah: (a) kebiajkan pengembangan usaha kecil dan menengah (UKM) yang komprehensif dan realistis (tidak hanya terpaku pada masalah kekurangan dana seperti yang sering kita dengar), (b) pelatihan yang benar-benar meningkatkan peluang tenaga kerja untuk mengisi lowongan kerja yang tersedia, (c) pembenahan mendasar terhadap pengelolaan tenaga kerja Indonesia (TKI) yang dikirim ke luar negeri, dan (d) gerakan pengentasan kemiskinan dengan strategi yang jelas dan penyusunan serta pelaksanaannya melibatkan semua stakeholder penting, termasuk departemen, pemerintah daerah, dunia usaha, kelompok masyarakat, dan pentingnya kaum miskin itu sendiri.

Bagaimana operasionalisasi dari semua itu? Kalau saya dimintai pendapat, sebaiknya dibentuk tim kerja dengan fokus dan tanggungjawab yang jelas (focus group) dan semua tim dikoordinasikan pada tingkat tinggi agar tidak saling bertabrakan dan membuang energi yang tak perlu.

Saya tahu penjelasan ini belum memuaskan mahasiswa saya. Tapi itulah yang dapat saya berikan dalam suatu kuliah.

*Boediono, Ekonomi Indonesia Mau ke Mana?
Jakarta: KPG, 2009, hlm. 28-33


Simpan dalam bentuk pdf
Bookmark and Share
SARA (-1)

Silahkan login untuk dapat memberikan rating artikel.

Komentar

44 Komentar

rian - June, 13 2009 @ 14:44

Assalamualikum
wah salut, cawapres kita orang pinter. pernah jadi dosen UGM
TOP seorang doktor pula
Sukses pak

rian - June, 13 2009 @ 14:47

Pak, bangun negara kita jadi negara maju, ekonomi kuat, berteknologitinggi, ber SDM maju..
Maju terus pak

tumpal - June, 13 2009 @ 16:21

Saya tidak pernah ragu akan keahlian bapak dalam bidang ekonomi. Karena memang bapaklah salah satu pakarnya. Kiranya kehidupan sederhana yang selalu bapak tonjolkan selama ini, boleh juga diterapkan dalam kehidupan bernegara nantinya, saat terpilih menjadi wakil presiden.

Harapan saya hanya satu. Jika boleh hutang negara keluar negeri ditekanlah pak. Kalau perlu dituntas kan dalam 5 tahun masa kepemerintahan nantinya. Kasihan donk kita-kita yang muda-muda ini harus menanggung beban negara. Bahkan calon anak yang belum lahir sudah di tunggu huntang negara, yang mananya angkanya mungkin kalkolator saya tidak cukup digit untuk mengetik jumlahnya.

Terima Kasih

Sekali lagi selamat berjuang.

andri - June, 13 2009 @ 17:22

sederhana bukan berarti kita harus miskin. tidak banyak komentar, bukan berarti bodoh.

bangsa indonesia harus menjadi kaya karena sesungguhnya kita memiliki kekayaan itu. kita juga harus menjadi pintar, karena telah banyak anak bangsa yang membuktikannya.

dipundak SBY dan Boediono, kami titipkan harapan itu untuk membangun bangsa menjadi kaya, bermartabat, berdayasaing, berdayaguna, bagi kemajuan indonesia dan dunia.

SBY BerBudi…BISA !!! Lanjutkan!!!!!!!

bu lis - June, 13 2009 @ 19:12

Pak Boed, dari dua potensi pertumbuhan utama (a) kualitas institusi-institusinya, (b) kualitas sumberdaya manusianya yang dibundle menjadi birokrasi, sebenarnya sudah “bagus” dan “efektif”, tergantung dari sisi mana melihatnya. SBY dan anda sendiri telah mendeklarasikan pejabat negara jangan terlibat bisnis, sementara kebanyakan mesin birokrasi (pejabat) adalah pebisnis tangguh, bagaimana mengguntingnya, kalau saya usulkan sih… potong 1 atau dua generasi birokrasi… artinya banyak yg cepat dipensiunkan, posisi dikocok dan diperas hingga terpilih birokrat profesional yang amanah.

Dodi Ganefo - June, 13 2009 @ 19:54

Pak Boed..yang saya kagumi,
Saya sangat mendambakan negeri ini dikendalikan oleh ekonom. Keputusan prestisius SBY berpasangan dengan bapak mengandung nilai luhur untuk menjadikan ekonom sebagai panglima. Saya kok melihat dari dulu ekonom dijajah terus. Dahulu ekonom dijajah militer, jaman berganti ekonom dijajah pengusaha. Sekarang ekonom dijajah politikus dan parpol. Ayo..pak udah saat ekonom mengendalikan negeri ini.
Apapun komentar orang panik/ketakutan, bagi saya bapaklah calon yang paling ikhlas, semata-mata ingin mengabdikan ilmu untuk kemajuan umat. Dimata saya malah, bpk jauh lebih ikhlas dari SBY sekalipun.
Selamat berjuang Pak, Doa dan dukungan kami sekeluarga akan menyertai bpk. Saran saya, terimalah segala macam fitnah dengan senang hati…insya Allah kebenaran tdk akan tertukar. Mengabdi untuk kesejahteraan ummat isya Allah Jihad.
Salam.

Harris Kristanto - June, 14 2009 @ 23:42

iya, bener.. ini memang sosok pemimpin yang kita harapkan. maju terus pak…

Onaldmj - June, 15 2009 @ 22:43

India salah satu contoh negara yang meroket setelah PMnya seorang Ekonom, yaitu Mr. Moh Singh, semoga dengan jadi Wapresnya Pak Boed Indonesia juga dibawa ketempat yang jauh lebih baik dan sejahtera, dan 5 tahun lagi dengan segala prestasi yang dibawa saat ini bapak bisa menjadi Pemimpin negri ini menjadi RI 1 !!!

Fikri Rasyid @ Bloggingly - June, 16 2009 @ 06:28

Mengesankan :)

Andaikata pemimpin negara kita ini adalah cerdik cendikia yang sederhana dan tulus, kemungkinan untuk kehidupan yang lebih baik bagi negara ini menjadi besar :)

MossackAnme™ - June, 16 2009 @ 13:25

Gile, baru kali ini saya benar-benar melihat seseorang yang bersih ada di deretan nama calon pemimpin Indonesia…
Maju terus Pak Boed! Jangan lupa didiklah para junior Anda agar bisa meneruskan perjuangan ekonomi Bapak untuk kemajuan seluruh negara Indonesia!

yogi - June, 16 2009 @ 14:47

jadi lebih cerah rasanya…
jadi kejawab pak, makanya bapak fokus sama pemerintahan yang bersih. Meskipun “bersih”, belum nyampek alias ndak nutut kalo kita yang mikir.. jadi bapak aja yang mikir kita yang ndukung dan ikuti. yang jelas bukan ide populer lagi kalo bapak dibilang neolib.

andik - June, 16 2009 @ 21:33

Saya selalu bangga dengan pemimpin yang santun, karena kesantunan itu mewakili kedalaman berpikir dan kebijaksanaan… Semoga Pak SBY dan Pak Boed tetap amanah dan istiqomah untuk membawa Indonesia yang lebih sejahtera dengan konsep ekonominya yang Saya yakin lebih membumi dibanding “ekonomi mimpi indah” yang digembar gemborkan CAPRES/CAWAPRES lain… sebenarnya Indonesia ini mustahil menjadi miskin karena kekayaan alamnya, tapi sekarang rakyat menderita akibat korban “ekonomi mimpi indah” yang selama ini dipraktekan orang2 lama tadi… Semoga Anda berdua mampu memberikan tatanan ekonomi yang realistis dan tahan banting serta tahan terhadap serangan mereka2 yang sok membela rakyat dengan bersembunyi di balik slogan2 ekonomi kerakyatan=ekonomi mimpi
indah…

Saya sarankan mulai disusun semacam counter untuk memberi pemahaman mendasar kepada rakyat apa yang dimaksud ekonomi jalan tengah Pak… supaya rakyat/konstituen tidak terbuai mimpi2 yang dijanjikan lawan2 politik Anda…

Semoga ALLAH melindungi dan mencurahkan rahmatNYA kepada Anda berdua… Amin…

Syamsiro - June, 17 2009 @ 00:04

Maju terus pak….dan Lanjutkan….!

Arie - June, 17 2009 @ 01:46

Kl saya boleh berpendapat disini, ekonomi Indonesia sudah betul2 liberal, tidak hanya disektor ekonomi produktif, namun bahkan telah masuk di sektor pendidikan dan kesehatan.
Dimulai dari era Orba, masuknya investasi asing dan hutang luar negeri perlahan namun pasti telah melumpuhkan jiwa kemandirian bangsa ini. Di era Reformasi, lewat IMF, kaum-kaum kapitalis semakin kuat menancapkan kuku-kukunya mencengkeram negeri ini melalui privatisasi, kekuasaan dan kekuatan modal merasuki semua lini perekonomian Indonesia, bahkan sektor2 yg sangat mendasar bagi keamanan negarapun telah tergadai dengan terjualnya Indosat ke pihak asing. Sektor yang menjadi urat nadi perekonomian, yaitu perbankan, tak luput dari sergapan liberalisasi. Kita liat sekarang ini, sebagian permodalan Bank2 di negeri ini telah dikuasai pihak asing. konsekuensinya, Perbankan, kl saya tidak salah, seperti yg pernah saya baca di buku2 ekonomi karya P. Budiono sewaktu saya masih kuliah di FE, juga mempunyai fungsi sebagai agen pembangunan, dan dalam hal ini, sekarang ini, perbankan telah gagal dalam menjalankan fungsinya. Kita lihat sekarang ini, dengan BI rate yang cuma 7-8% namun suku bunga kredit dikalangan perbankan baik plat merah atau swasta masih dikisaran 16-24%. Mungkin Anda sulit percaya angka 24% saya tulis di sini, kl demikian halnya, silahkan datang ke BRI (yang notabene bank plat merah dan menyandang kata “Rakyat Indonesia”), dari dulu hingga saat sekarang mematok angka 2% per bulan untuk Kredit Candak Kulak (KCK) yang notabene para pengambilnya adalah rakyat kecil yang “mungkin” miskin dan lemah dari segi permodalan, yang mungkin selayaknya lebih dibantu. Sedangkan kalau kita bandingkan dengan kredit “Konglomerasi” mungkin bunganya akan sangat jauh berbeda kl dibandingkan dengan KCK untuk rakyat kecil. Dari sini bisa kita lihat, ke arah mana perbankan nasional berpihak, yaitu lebih condong ke arah pemilik kapital daripada peningkatan kemampuan ekonomi rakyat kecil maupun menggerakkan perekonomian rakyat. Mungkin Bankir dan ahli perbankan akan beralasan, kredit retail ataupun mikro mempunyai resiko dan biaya yang besar, dapat saya jawab, ribuan triliun rupiah yg melayang dalam kasus BLBI, mega kredit yang macet dari sektor konglomerasi sangat tidak sebanding dengan besarnya kredit yang macet di sektor mikro. Jawaban yang mungkin menurut saya adalah, disinilah perlunya keberpihakan dan kepedulian. Biaya yg besar di sektor kredit mikro, mungkin bisa diatasi (oleh para cerdik pandai di kalangan perbankan)dengan penyusunan skema dan manajemen yg efisien namun efektif.
Kaitannya dengan program KUR (Kredit Usaha Rakyat) yang diklaim sebagai salah satu contoh program ekonomi kerakyatan, saya sama sekali tidak bisa menerimanya. Karena apa? dengan tingkat bunga sebesar 16%, (bandingkan dengan Bi rate) hal itu bisa dikatakan, bukannya menyubsidi rakyat kecil namun mencekik leher rakyat kecil dengan bunga yang teramat tinggi dan sangat tidak adil. bukankah margin yg adil bagi perbankan adalah 3-5%? juga sebagai program negara, seharusnya tidak mengambil keuntungan namun bila perlu mamberi subsidi bunga dalam rangka mendorong penguatan perekonomian rakyat kecil maupun pengentasan kemiskinan.
Di sektor Pertanian, subsidi pupuk dan benih semakin tidak kelihatan dampaknya. Mungkin IMF pernah menekan kita untuk menghilangkan (menekan sekecil2nya) segala bentuk subsidi dari APBN kita, terlepas dari beragam motifnya, namun kita lihat, Amerika dan negara2 di Eropa barat yang secara terang2an memproklamasikan sebagai negara berekonomikan Liberal, sangat memanjakan petani mereka dengan berlimpah subsidi. Hal kebalikannya terjadi disini, dinegara yg katanya menganut ekonomi kerakyatan, di waktu musim tanam, petani banyak yg kesulitan dalam memperoleh pupuk bersubisidi secara mudah.
Di sektor kesehatan, di era OTODA sekarang ini kita lihat RSUD menjadi BUMD, sekali lagi suatu “Badan Usaha” yang arahnya “di-MANDIRI-kan (dari Subsidi) serta diarahkan profitable sehingga mampu menjadi sumber pendapatan daerah. Dampaknya, akses rakyat miskin untuk memperoleh pelayanan kesehatan menjadi sangat terbatas (tidak perlu saya uraikan disini segala carut marut dalam kaitannya dengan program ASKESKIN) serta meningkatnya biaya pelayanan kesehatan bagi masyarakat pada umumnya. Ini terjadi di negara yang katanya menganut ekonomi kerakyatan. Marilah sejenak kita menengok ke negara yg liberal seperti Amerika serikat, beratus Milliar dollar dialokasikan untuk program kesehatan rakyatnya tiap tahun.
Di bidang Pendidikan, Dalam UUD sudah jelas merupakan tanggung jawab negara. Namun kita lihat sekarang ini, perguruan tinggi negeri malah menjadi badan usaha, yang sekali lagi diarahkan untuk “Mandiri” apakah ini bukan pengingkaran negara terhadap kewajibannya untuk membiayai? Waktu saya dulu kuliah di sebuah PTN di jateng, dari awal masuk tahun 1990 s/d lulus, biaya SPP cuma 60rb rupiah/semester ditambah uang laboratorium sebesar 30rb rupiah/semester. Di jaman saya dulu, pendidikan bisa diharapkan sebagai pemutus rantai kemiskinan, rakyat miskin dan dengan tingkat kecerdasan yg “cukupan” (seperti saya ini) dan tidak musti harus mempunyai kecerdasan yg lebih (untuk masuk melalui jalur tertentu), mampu memperoleh pendidikan tinggi yang diharapkan kelak mampu merubah hidupnya dan mengangkat nasibnya dan keluarganya dari lembah kemiskinan. Bisa kita lihat sejenak dengan kondisi sekarang ini, Biaya Pendidikan di PTN semakin tidak terjangkau (entah besok saya bisa nguliahkan anak saya atau tidak) untuk rakyat kecil, apalagi rakyat miskin. Belum lagi persaingan untuk masuk lebih ketat lagi karena sebagian kursi sudah dialokasikan untuk program “SWADANA” alias beli kursi.
Demikian sedikit opini saya yang mungkin sangat dangkal dan banyak kesalahan, namun sekali lagi itulah opini saya. Namun terlepas dari semua itu, saya tetap memilih SBY, karena dalam pandangan saya, pasangan SBY-Budiono masih yang terbaik dari semua calon yang ada. Satu harapan saya, Mari Pak SBY dan Pak Budiono, bawa masuk semua Koruptor di negeri ini ke dalam Jeruji Besi …. Lanjuuuuuuuuuuuuuuuuuuuut !!!

Salam

exanh - June, 17 2009 @ 02:43

saya ragu…kapabelitas intelektual saja kurang cukup. pelajaran sejarah bangsa, setelah pak harto lengser,bukankah habibie seorang yang jenius,sejarah telah mengajarkan kpd kita semua. mudah2an memberi pelajaran yang berharga.
Tuntaskan monopoli,pasar bebas, dan anti proteksionisme. MERUGIKAN rakyat…

sadriansyah - June, 17 2009 @ 07:46

salam dari Banjarmasin,terus maju pak boed,,,,,

hansmandala - June, 17 2009 @ 08:03

Saya ucapkan selamat pak Boed. Paling tidak kehadiran Bapak ditengah hiruk pikuk pesta politik 2009 telah banyak memberikan pencerahan kepeada seluruh rakyat indonesia. Penjabaran singkat Bapak tentang tujuan pembangunan, investasi & infrastructure, reformasi birokrasi,dan pilihan terhadab UKM sudah dapat dimengerti dengan baik. Namun, perlu dipaparkan juga tentang segi teknisnya. Semisal, kenapa kita harus berutang? untuk apa dana tsb? mampukah kita membayar utang tsb? sangsi apa yg akan ditanggung? (paling ringan sampai yg paling berat). Selanjutnya, asumsi pemerintah berapa besar UKM dapat menopang ekonomi kita? Tentunya hal ini berkaitan dengan peran Bapak bila Bapak dipilih rakyat untuk jadi wapres. Terima Kasih.

rexy shanen - June, 17 2009 @ 09:04

Kenapa negara kita berutang? Pertanyaan pak hansmandala. Sya coba jawab dgn segala keterbatasan pengetahuan saya. Negara kita masih termasuk negara berkembang, dimana diperlukan dana besar untuk memajukan perekonomian. Sementara penerimaan negara berasal dari sektor pajak dan non pajak. Dari catatan yg saya dpt, hanya beberapa tahun Indonesia surplus, selebihnya defisit. Hal itu karena penerimaan negara lebih kecil dari belanjanya. Tentu timbul pertanyaan, kenapa negara kita yg kaya tdk bisa punya dana? karena memang kita tdk bisa mengolahnya. Contoh pertambangan2 asing yg dikelola sejak jaman ORBA dan itu akan berlanjut sampai beberapa puluh tahun lagi. Sedangkan bagi hasilnya hanya sekian % bagi Indonesia. Jadi memang hanya dari pajak kita bisa mendapatkan dana. Sementara itu banyak sekali Wajib Pajak yg enggan untuk membayar pajak, mungkin termasuk juga perusahaan2 yg dimiliki calon2 presiden atau keluarganya. Coba tanya kepada CAPRES yg paling kaya, berapa dia bayar pajak? Jadi singkat kata, selama kita masih defisit memang kita harus ngutang. Sepanjang utang tsb dikelola dgn baik tanpa dikorup hal tsb oke saja. Coba bandingkan utang kita dgn Amerika Serikat, bapak pasti terkaget2. Apalgi mengingat adanya resesi dunia belakangan ini, perlu adanya stimulus yg memerlukan dana yg besar. Atau kalo memang kita gak boleh utang, yah pembangunan akan terhenti. Dan Indonesia akan stagnan tanpa ada kemajuan. Demikian tanggapan saya.

Budi Yantoni - June, 17 2009 @ 10:15

Mengomentari Tanggapan dari sdr rexy Shanen dan menangkap maksud dari pertanyaan sdr hasmandala… yang seakan bertanya kepada pak boed…kenapa kita harus berutang? bukankah kekayaan alam kita sangat2 berlimpah berarti ada yang tidak berjalan baik dalam diri bangsa kita..dalam hal ini yang gak bener tentunya sdm / manusia2nya.. menurut saya pabila kita memahami perjuangan para pendiri bangsa (di era kepemimpinan presiden sukarno dan sebelumnya) bahwa bangsa kita harus bisa membenahi diri dan mandiri dalam hal pengelolaan bangsa dan negara dengan tidak menggantungkan pada bantuan negara lain.. justru kita yang harus memperbaiki kualitas dan kemampuan sdm bangsa kita agar bangsa kita maju dalam penguasan ilmu pengetahuan dan teknologi sehingga kita bisa mengolah kekayaan alam kita sendiri dan menjaga ketuhan negara kesatuan kita dari sumber daya yang ada dari dalam negara kita sendiri (sdm & sda). dan saat ini kenyataan yag ada sdm negara kita telah dibuai dengan kehidupan kapitalis yg membelenggu dan merusak sendi-sendi kehidupan kita, bangsa kita dipimpin oleh pemimpin yang telah kehilangan semangat patriot pejuang pendahulu, yang tidak lagi menyadari bahwa bangsa kita telah diikat dengan belenggu oleh para kapitalis dunia yang terus menguras kekayaan alam kita dan membodohi pemimpin negeri ini dengan memberikan buaian berupa kehidupan yang bahagia di atas penderitan rakyatnya. Jadi menurut saya berutang adalah salah satu langkah dalam rangka untuk bertahan saja, namun upaya keras untuk menumbuhkan kembali semangat patriot ke dalam sdm bangsa sehingga dengan kesadaran yang tinggi para warga bangsa berupaya secara simultan meningkatkan kemampuan agar dapat menguasai iptek yg diperlukan untuk mengolah sda dan mengelola negara kita sehingga menjadi negara yang handal. Meniadakan korupsi di tubuh birokrasi, membenahi kontrak karya dengan negara kapitalis yg merugikan bangsa, meningkatkan kemapuan sdm agar dapat ikut mengoperasikan perangkat2 teknologi yg sdh ada dan sedang dipakai untuk mengekslpoitasi sda kita. saya yakin kita mampu menjadi bangsa yang mandiri. teringat pidato bpk presiden sukarno “apabila kita tidak mampu mengubah kebiasaan, perilaku dan sifat2 diri… negara kita hanya akan menjadi bangsa kuli dan babu… (akhirnya terbukti sperti tki/tkw sekarang di luar negeri). Bila kita mampu menjalakan konsep itu diatas… Kenapa kita harus berutang? (bukankah mestinya sekarang kita bisa seperti atau bahkan lebih maju dari negara tetangga????) Wallahualam bishowab

Danijanto Kesuma - June, 17 2009 @ 09:47

Kalau konsep ekonomi lahir dari seorang Boediono yang jamak diketahui sebagai orang yang cerdas, jujur, berpengalaman, santun dan rendah hati, maka tidaklah perlu diragukan lagi bahwa konsep Pak Boed ini pasti bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat di Indonesia.
Tantangan terberat adalah bagaimana merealisasikan konsep ekonomi Pak Boed ini dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Namun, dengan dukungan semua komponen bangsa, realitas kesejahteraan tersebut tentu bisa dicapai. Semoga.

Michou - June, 17 2009 @ 10:34

Yth Bapak Budiono,
Terima kasih atas uraian bapak ttg ekonomi di atas. benar2 uraian yg enak dibaca(at least buat ukuran saya). Saya tau tidak semua org bisa menguraikan sesuatu dgn enak.

sedikit menyimpang dari topic…
Not sure if this is visible, but untuk perolahan suara tambahan di pemilu nanti, rambahlah anak2 muda (range University - pekerja) yg berdomisili di luar negeri. Karena majority mereka biasanya golput, pdhl kl lagi diskusi, mereka blg moga2 Sby - Budiono yg menang.

Kemudian untuk tujuan 5 th kedepan and beyond alangkah baiknya kl membuat program supaya org2 pandai di luar negeri bersedia pulang ke Indonesia untuk membangun bangsa. Bp tau banyak sekali orang2 pandai Indonesia yg males pulang indonesia. Pdhl kita butuh mereka buat mambagi ilmu2 yg mereka dapetin di negara tetangga untuk tujuan Indonesia maju.

Long term programnya sederhana aja, buatlah Indonesia jadi the safest dan stabil country in the world.

LANJUTKAN PAK!!

Mr.cool - June, 17 2009 @ 11:19

mudahan para pemimpin ga cuma omongan di awal doang…
buktikan bahwa yang di omongin itu jadi kenyataan, buktikan janjimu yang sudah kau sampaikan kepada rakyatmu…

kita butuh bukti bukan janji, nama SBY sudah baik di mata kami, jangan kau hancurkan nama sby hanya karna janji mu…

Tini JC - June, 17 2009 @ 11:38

“Tujuan akhir dari kebijakan ekonomi adalah meningkatkan kesejahteraan rakyat.” Ini adalah cuplikan dari paragraf tulisan bapak diatas.

Yang saya tanyakan : rakyat indonesia yg mana pak? SELURUH rakyat Indonesia atau SEBAGIAN rakyat Indonesia?

Bagaimana dgn program kerja Bapak dalam meningkatkan kesejahteraan rakyat Indonesia yg ada di kota2 / pulau2 terpencil?

Amat sangat ironis sekali saat ada berita ttg balita atau orang dewasa yg meninggal krn kurang gizi.

Terima Kasih.

hansmandala - June, 17 2009 @ 11:44

Pak Rexy & Pak Budi,
Terima kasih atas uraian bapak berdua. Kedua penjelasan ini masuk akal dan memang seperti itu adanya. Namun yang saya ingin ketahui adalah utang untuk sektor yang mana?… Pajak tentunya datang dari kegiatan ekonomi oleh dunia swasta nasional dan asing (PMA) namun, selain memiliki pendapatan dari pajak ada juga income dari pengelolaan asset negara misalnya Migas, Mineral, Hutan, Telekomunikasi, dll. Kegiatan ekonomi tsb, termasuk pengelolaan asset negara tentunya butuh modal artinya kalau modal dalam negeri (national saving) kita tidak cukup maka kita akan pinjam kepihak lain (asing) baik melalui instrument perbankan maupun lewat pasar modal atau bentuk lainnya. Kembali kepertanyaan saya, masih menggunakan assumsi Pak Boed (ref. reformasi birokrasi) kalau utang yg dimaksud macet / bermasalah (bakal kena sangsi berat) semisal pada sektor pengelolaan asset negara maka seharusnya sektor tersebutlah yg direformasi paling awal. Pemikiran saya, tentunya utang yg dilakukan pemerintah atas asumsi bahwa sektor penerima dana utang bakal beroperasi dengan baik / mengelola dana tsb dengan bijak sehingga value yg dihasilkan oleh sektor tersebut dapat memenuhi amanat undang2 dalam praktek nyata yaitu perluasan ekonomi berkesinambungan / kesempatan kerja berkelanjutan, bayar utang tepat jumlah dan waktu dan ada saving untuk pertumbuhan sektor2 ekonomi lainnya. Dalam kaitanya denga Pilpres-cawapres tentunya kita perlu punya informasi tentang apa yg bakal dilakukan oleh mereka sehingga kita memilih mereka dengan alasan yg masuk akal. Sekali lagi trima kasih.

Rikiplig - June, 17 2009 @ 12:56

MOHON UNTUK KOMENTAR SDR.ArRIE diatas DIPERHATIKAN OLEH PAK BOEDIONO….

Kalau memang nanti terpilih… bangunlah pondasi yg kuat sebagai bangsa yang MANDIRI dan BERKARAKTER sebagai modal kedepan untuk menjadi bangsa yg unggul…5 thn bukan waktu yg rasional untuk menciptkan kesejahteraan yg ideal…tapi cukup untuk menyiapakan pondasi dan sisitem yg sehat bagi generasi muda melalui sistem pendidikan yg ideal…PNEDIDIKAN begitu penting tapi kenapa skrg orientasinya lebih profitable…
PEMIMPIN DI NEGERI INI HANYALAH PEKERJA KONTRAK 5 TAHUNAN DAN SEJATINYA RAKYATLAH YG BERKUASA TAPI YG TERJADI DI INDONESIA TERBALIK…PEKERJA KONTRAK 5 TAHUNAN LEBIH PUNYA KUASA,RAKYAT DIANGGAP TIDAK PUNYA KUASA…CONTOHNYA ADALAH BLT DIMANA UANG HASIL HUTANG DAN RAKYAT YG AKAN MEMBAYAR HUTANG ITU, DENGAN AROGANNYA PEMERINTAH MENGANGGAP ITU ADALAH BANTUAN…..BANTUAN DARI MANA?..LAH ITUKAN UANGNYA RAKYAT….YANG BAYAR HUTANG NEGARA PUN RAKYAT….YANG MENGGUNAKAN HUTANG PUN BELUM TENTU RAKYAT…

Arif Z - June, 17 2009 @ 15:04

Melanjutkan uneg2 saya ya Pak Bud,..
Defisit terjadi karena belanja melebihi pendapatan. Bukan semata karena sumber pendapatannya yg kurang, namun karena ada keinginan untuk meningkatkan kesejahteraan dengan meningkatkan belanja. Sayang, belanja yang secara kuantitatif sudah besar dan seharusnya menghasilkan dampak yg positif, secara kualitatif bisa jadi tergerogoti di jalan yang sebagian besar oleh aparatur sendiri.
Jadi, saya setuju jika good governance yg dicanangkan SBY dan akan dilanjutkan terus tersebut. Kebocoran anggaran adalah musuh utama, karena dia lah penyebab utang makin menumpuk sementara hasil pembangunan tak nampak nampak.
Orang boleh teriak-teriak: hentikan hutang, hentikan hutang, kasihan generasi berikutnya. tapi, bagaimana mungkin mengobati suatu penyakit jika penyebabnya tak dibasmi terlebih dahulu? Bagaimana menghentikan hutang, jika kebiasaan buruk pemborosan anggaran menjadi hal yang biasa dan wajar saja? Efisien, efektif, dan ekonomis jadi hanya slogan saja.

Mudah2an, jika Pak SBY-Pak Bud terpilih, kondisi PNS - terutama pusat,sebagian-yg sudah membaik dilanjutkan dan menyebar ke semua instansi baik pusat dan daerah. Sebagai contoh soal pengadaan brg jasa pemerintah: Tak ada alasan menolak keppress 80/2003 dengan alasan ribet dan kurang untung. Dengan contoh dari Anda berdua, diikuiti menteri dan pembantu2nya, insyaallah aparatur2 negara akan menjadikan hal tersebut sebagai budaya baru mereka yang baik dan membanggakan.
Demikian pula, sebagai pemimpin bersikaplah terbuka terhadap bawahannya. Saya percaya Anda berdua sudah melaksanakannya, dari ucapan menteri2 anda. Namun, kami juga ingin hal tersebut menyebar hingga ke bawah, sebab kalau tidak, untuk apa kami belajar kewirausahaan publik jika sebagai bawahan kami mendapatkan pemimpin yang tak tahu dan tak pernah mau tahu?
Saya percaya Anda berdua bisa, dengan bantuan Nya dan seluruh elemen bangsa Indopnesia. Semoga. Amin

misteri man - June, 17 2009 @ 16:04

semoga aja bangsa tambah maju (jangan berkembang terus)
1. Ciptakan Infrastruktur jalan raya yang baik dan BERKUALITAS!! jl raya jangan sering tambal2 mulu, kita2 para pengguna motor bener2 terganggu. INGAT, pengguna motor di Indonesia LEBIH BESAR dibanding pengguna MOBIL!!

2. HAJAR para KORUPTOR tanpa PANDANG BULU

3. HAPUS Sistem Kerja KONTRAK!!!

4. ATUR TATA RUANG KOTA lebih teratur,,,

5, HIJAUKAN BUMI INDONESIA,,,, BIAR GAK PANAS!!! Tanam Pohon sebanyak-banyaknya!!!

6. Para developer BANGUNAN, harus memperhatikan FAKTOR LINGKUNGAN HIDUP, jangan sampai pembangungan bikin MACET, BANJIR, BANYAK NYAMUK, UDARA PANAS

7. Bantai PREMANISME di JALANAN!!! Angkat anak2 jalanan menjadi orang yang berguna!!! BIAR GAK NGEGANGGU PARA PENGGUNA JALAN

8. BERSIHKAN SUNGAI DARI SAMPAH2 pake alat2 GEDE sekalian!!!!

9. PERBANYAK IKLAN2 SOSIAL UNTUK MENJAGA KEBERSIHAN, HINDARI NARKOBA, IKLAN BUDAYAKAN MENANAM POHON, dan IKLAN2 sosial lainnya yang BERMUTU!!!!!

10. POLISI jangan asal TILANG, merekan BIASANYA Cuman mo NYARI UANG TAMBAHAN!!!!

Fechri - June, 18 2009 @ 04:48

Untuk tata ruang, premanisme, sampah, banjir dll, saya serahkan kepada gubernur masing-masing daerah. Tentu saja saya akan paksa mereka menyelesaikan PR mereka itu. Kalau tidak ya terpaksa saya akan minta dia mengundurkan diri. Saya tidak akan bantu masalah-masalam itu, kecuali kalau gubernurnya tidak becus mengatur wilayah mereka.

Untuk masalah Koruptor.

Tentu saja saya akan berantas korupto2 itu.
Saya benci koruptor. Mereka adalah maling berkerah putih. saya lebih menghargai Bapak penjual bakso yang bekerja tiap hari itu daripada pejabat yang korup.

Bapak penjual bakso mencari uang dengan halal. Lain halnya dengan koruptor itu, mereka mencari uang dengan mencuri apa yang menjadi haknya rakyat.

Saya akan dengan segala cara saya dan semampu saya, akan menghancurkan Koruptor-koruptor itu.

Saya akan memulai peperangan dari para HAKIM DAN JAKSA.

Tidak semua hakim dan jaksa adalah koruptor. Saya tahu itu. Tapi, ada hakim dan jaksa yang korup.

Dan saya akan berantas.
Sampai ke akarnya.

Saya hanya butuh satu jaksa yang korup.

saya akan buat hukum yang lebih keras kepada jaksa.

Jika mereka ketahuan korupsi, hukumannya adalah seumur hidup. Kecuali jika mereka bisa memberikan 10 orang temannya yang melakukan korupsi bersama dia.

Dari satu koruptor, saya akan mendapat 10 koruptor lain.
Dari 10 koruptor itu, saya akan dapet 100 koruptor lain.

dari 100 koruptor, saya akan dapat 1000 koruptor lain.

Biarkan saja habis.

Saya percaya masih ada jaksa dan hakim yang berhati mulia.

Bagi saya, lebih baik kita memiliki 1 hakim/jaksa yang berhati mulia, daripada memiliki 1000 hakim/jaksa yang korup.

Tunggu saja tanggal mainnya.

edi T - June, 17 2009 @ 18:56

sy berharap, apabila Pak Boed menjadi wapres, dalam pengambilan kebijakan, janganlah terlalu terpengaruh oleh bisik-bisikan investor/institusi asing. Mereka punya agenda2 tersembunyi. Dan jangan terlalu berpatokan pada peringkat2 yg diterbitkan survei2 asing. Mereka pernah menyatakan Lehman brothers itu peringkat A, ternyata bisa tiba2 bangkrut; ketahuan bohongnya.
Lalu tingkat bunga pinjaman luar negeri, janganlah melebihi tingkat bunga SIBOR, berat menyicilnya. Jangan mengutang utk biayai pejabat2 pelesiran, sakit hatinya rakyat pembayar pajak.

jihan - June, 18 2009 @ 07:09

Mana yg lebih baik menjadikan 1 org spt Bill Gate dgn 1000 tukang cendol atau membalik rasio itu 1000 orang Bill Gate dgn 1 tukang cendol?

Kalau kita cuma buat infrastruktur dahulu baru SDMnya kemudian apa nantinya nasibnya tdk akan berbeda dgn Batam? Letak Batam yg strategis dgn infrastruktur yg begitu bagusnya ternyata belum mampu membuat Batam ekonominya lebih baik dari Singapura. Malah kini terlihat kumuh dan cuma di penuhi bisnis2 kesenangan sesaat org Singapura dan belum mampu head to head dgn mereka.

Kalau melihat program bapak yg tdk akan merubah sistem pendidikan Indonesia sekarang, apa itu artinya BHP tetap akan di pertahankan? Apakah hasilnya tdk akan berbeda jauh dgn apa yg kita dapatkan dalam 5 tahun lalu? Lalu berapa cost yg harus di bayar rakyat? Apa ada jaminan tdk ada kebocoran?

Bapak kan org ekonomi, bapak pasti mengerti dong kalau mata uang itu spt harga saham.

Nah saya lihat, kenapa harga rupiah tdk bisa kembali ke angka 2000 lagi itu di sebabkan:

a. Melihat laporan keuangan negara, SDA kita sudah di gadaikan puluhan tahun lamanya.
b. Penerimaan negara cuma dari bagi hasil yg sekian % saja di tambah dgn pajak2 lainnya. Sedangkan
c. Pengeluaran kita bengkak karena jumlah PNS yg tdk masuk akal yg memberikan kontribusi kecil kepada penerimaan negara.
d. Hutang yg terus menumpuk.
e. Kualitas SDM kita itu benar2 jauh api dari panggang. Buat mesin yg sama saja kita belum mampu, apa lagi di suruh mencipta?

Jadi saya melihat sebenarnya Indonesia itu spt orang pemimpi, kemampuan SDMnya rendah sehingga tdk bisa menghasilkan barang yg bernilai ekonomi tinggi di tambah SDAnya sudah di kontrakan dgn kurs fix utk jangka waktu panjang sedangkan hutang terus bertambah dan tabungan cuma cukup buat 3 bulan.

Kalau saya creditor, pasti yg saya lihat kemampuan membayar hutang. Kalau di lihat dari SDM hopeless lah. Jadi kalau saya creditor pasti yg saya incar SDAnya. Silakan pinjam sebanyak2nya, tapi saya ambil SDAnya sebagai jaminan.

Kalau saya sebagai pengusaha tentu saya akan cari negara yg rakyatnya suka kerja keras dan punya mutu sehingga selain menikmati hasil dagangan saya, saya juga sudah merasa nyaman karena usaha saya di tangani oleh SDM yg berkualitas dan tdk gemar korupsi. Lebih dari itu GDPnya tinggi. Melayani 1000 pelanggan dgn GDP 30000 lebih baik dari pada melayani 1000000 dgn GDP 3000. Kenapa? Cost utk melayani pelanggan 1,000,000 lebih besar dari pada benefitnya. Dan itu artinya memutus mata rantai ineffisiensi karena jumlah pekerjanya tdk banyak.

Bukan begitu pak Boediono?

Nella - June, 18 2009 @ 09:43

Saya akan menanggapi dari sisi pendidikannya

Saya akui memang pendidikan di Indonesia memang mahal, tetapi saya rasa ini dapat dibenahi apabila tidak terjadi kebocoran-kebocoran, jadi seperti kata Pak Boediono kita harus membenahi birokrasi dan koruptornya dulu.

Tetapi semurah apa sih harga pendidikan yang kita mau?
Saya rasa pemerintah cukup intervensi untuk pendidikan hingga SMU/SMK, sedangkan untuk perguruan tinggi pemerintah cukup berikan beasiswa kepada mahasiswa yang berprestasi tetapi tidak mampu.

Di Amerika sendiri biaya di perguruan tinggi sangat mahal, kenapa? Karena yang benar2 masuk perguruan tinggi adalah yang teruji.

Inilah kesalahan cara pandang kita, kita selalu memandang silau title bahkan segala cara dipergunakan seperti nyontek, jockey dll. Begitu selesai kuliah kita teriak2 pada pemerintah, mana lapangan kerja untukku??? Kenapa kita harus disuapi melulu?

Seharusnya SMK atau sekolah kejuruan sudah mulai diberdayakan, kita bukan cuma butuh title tapi juga keahlian untuk menciptakan lapangan kerja.

Justru di area dasar itulah yang seharusnya diperkuat.

Saya dulu sewaktu SD sekolah di sekolah Katolik. Uang sekolahnya mahaaaaaallll, tapi itu untuk teman-teman yang mampu. Sementara saya karena hanya putri seorang pedagang kecil yang makan saja susah, uang sekolah saya ga sampai sepersepuluh uang sekolah teman-teman yang kaya. Tapi pendidikan yang diberikan kepada saya sangat terjamin.

Sementara begitu saya SMP dan masuk sekolah negeri, uang sekolah yang kaya dan miskin sama. Mungkin inilah yang ingin dibenahi pemerintah dengan mengadopsi sistem uang sekolah katolik (swasta)

Tetapi sekali lagi, apabila pemerintahan bersih dan birokrasi insya Allah ini akan terwujud.

Mari kita dukung bersama bukan dengan mengkritik dan mencaci tetapi mulai dari diri sendiri.

Arie - June, 18 2009 @ 19:26

Sore ini di berita SCTV saya melihat berita yang menyesakkan dada, di panewali Sulawesi Barat, seorang ibu dan bayinya disandera RSUD setempat karena tidak mampu membayar biaya persalinannya.
Astaghfirullah, ini terjadi di negara yang menganut Pancasila dengan asas kemanusiaan dan keadilan sosialnya serta katanya menganut ekonomi kerakyatan …

otong - June, 20 2009 @ 01:06

Salut Pak Boed..Maju terus… ingin rasanya saya belajar banyak dari Bapak, sayangnya saya tidak kuliah di UGM..haha…

Nuna - June, 22 2009 @ 15:41

LANJUTKAN!!!!!

Nuna - June, 22 2009 @ 15:45

Tolong perbaiki jalan pak,jalan perbatasan jogja-magelang (sebelm pom Bensin Salam keutara (jl Bulu) sdh bolong2)..
LANJUTKAN!!!!

armen - June, 23 2009 @ 02:09

Saya setuju saja ketika pak Boed mendefinisi masalahnya, tetapi betul betul terhenyak ketika pak Boed merumuskan solusinya: Diterjemahkan dalam bahasa ekonomi teknis, yang kita inginkan adalah pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan disertai dengan stabilitas ekonomi yang mantap.
Inilah racun ekonomi Indonesia. Meletakkan pertumbuhan ekonomi ditempat pertama. Pilihan termudah adalah membuat sekelompok kecil orang menjadi kaya, sehingga memicu angka pertumbuhan. Selanjtnya dapat diduga, orang akan bicara trickle down effect, multiplier effect dan sebagainya. Jangan gitu dong, yangkita butuhkan adalah kemakmuran yang adi dan merata. Bukan sekedar pertmbuhan ekonomi makro yang bagi sebagian besar masyarakat tidak ada manfaatnya apa apa.
Dulu Soeharto mengusung trilogi pembangunan,pertumbuhan, pemerataan dan stabilitas. Sekarang pak Boed sama sekali tidak menyinggng pemerataan, walaupun kalau dicermati, pak Boed memasukkannya dalam stabilitas ekonomi.
Cobalah melihat fakta. Pemujaan kita pada angka pertumbuhan ekonomi makro, telah menyerahkan bulat bulat penguasaan ekonomi 230juta manusia Indonesia hanya pada 400 gelintir manusia yang sangat kaya raya karena dimanjakan habis oleh Pemerintah.
Sudah waktunya kita sama sama bertobat. Janganlah terlalu tunduk pada parameter neoliberalism yang memuja pertumbuhan,index harga saham gabungan dan kurs mata uang. Lupakan please.
Dua ratus juta masyarakat kita hidup tersia sia hanya kareana kesalahan menterjemahkan masalah kita dalam bahasa ekonomi teknis.
Indonesia yang lebih 60tahun merdeka, lebih dari 75% wilayahnya belum tersentuh pembangunan. Ini karena memuja pertumbuhan yang nyatanya cua segitu gitu juga. Mengapa tidak belajar dari Cina? Dengan penduduk 1.5milyar mampu mencatat pertumbuhan ekonomi double digit mengalahkan Amerika dan Jepang. Hentikan pola pikir lama. Guang Zhou bisa kita bikin di Indonesia. Kalau belum berani juga, copy saja Felda Felgra Malaysia, yang terbukti mampu mengangkat bumi putera ketingkat martabat terhormat didunia. Padahal mereka itu siapa? Sama saja malas dan bodohnya dengan bangsa kita pada umumnya. Kata kuncinya: perbanyak sektor produktif memanfaatkan comparative advantage negara kita. Untuk masuk ke competitive advantage yang bermuara di effisiensi, mungkin masih perlu waktu lama.
Kalau negara ini dikelola dengan ilmu kuno macam yang bapak tulis, yakinlah ekonomi kita makin tenggelam kedasar samudera.

Budi - June, 23 2009 @ 09:53

Salut buat Pak Boediono..
Semoga saja kalau terpilih,,apa yang di konsepkan,segera diimplementasikan…
Buat Pak Boediono,ntar kalau menang jadi Wapres,jangan putus kontak sama dunia akademis pak,,karena pemikiran2 bapak masih sangat perlu utk pencerahan mahasiswa Indonesia..
Sekali lagi saya mendukung ekonomi kita yang tidak naif..(gabungan liberal dan sosialis)..

Ekonomi kerakyatan/sosialis justru merupakan pembodohan kalau konsep nya: segala sesuatunya dikuasai negara..tanpa ada monitoring publik/keterbukaan..disamping itu, praktek KKN akan semakin tinggi..
dan yang paling penting, mental manusia Indonesia semakin hancur..lihat saja kinerja antara PNS dengan pegawai perusahaan swasta/asing..PNS yang katanya abdi negara,tapi kalau ngelayani masyarakat seenaknya dewe,sering minta “uang rokok”..datang telat,pulang paling cepat,ini terjadi karena mereka terlalu aman dan nyaman(tidak ada kompetisi yang kuat dan reward&punishment yang pasti)..,beda dengan pegawai swasta yang melayani konsumen/nasabah jauh lebih baik..ini karena mereka dalam dunia persaingan yang tinggi,dimana yang terbaiklah yang bertahan (ini kan faktor positif dari sistem liberal).
Makanya saya agak aneh saja kalau ada yang mengecap liberalisme itu negatif semua..(takut kalah bersaing sepertinya dia)..
Ayo Pak Boediono ciptakan dan arahkan ekonomi kita ke arah yang lebih baik..”dinamis dan terkendali”.

Salam dari Aceh,
K “Budi “

mohammad hartono - June, 26 2009 @ 10:09

Pak Boed Yth.
Publikasikan saja pidato pengukuhan sebagai Prof. di media cetak sehingga secara luas orang mengenal Bapak, seberapa jauh perhatian dan perbuatan Bapak untuk Indonesia.

ZABLIN - June, 27 2009 @ 16:59

Tidak ada cara lain untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi kecuali dengan meningkatkan produksi. Peningkatan produksi bisa dicapai dengan beberapa cara, misalnya pembukaan lapangan kerja baru, menambah jam kerja atau peningkatan produktivitas dengan teknologi yang tepat.
Mekanisme ini sangat sederhana pada tataran teoritis tetapi menjadi sangat sulit ketika harus diterapkan. Buktinya rata-rata 20 persen lulusan PT setiap tahunnya yang menjadi pengangguran, bahkan banyak diantara mereka yang juga bergelar SE. Mengapa mereka menganggur? Padahal banyak yang bisa mereka kerjakan.
Sampai saat ini, kita belum mandiri dalam pemenuhan pangan, produksi dalam negeri belum cukup untuk memenuhi semua kebutuhan masyarakat, sehingga terpaksa kita impor. Padahal kalau saja kita mau bekerja, kalau saja pengangguran di negeri ini mau bekerja di sektor pertanian, peternakan atau perikanan semua itu tidak akan terjadi.
Tanah kita masih sangat luas yang belum digarap, laut kita sangat kaya akan potensi perikanan bahkan saking kayanya banyak nelayan asing yang datang mencari ikan di negeri kita.
Mungkin benar pemerintah kurang serius dalam hal pemerataan pendapatan sehingga ada sektor yang menjanjikan tingkat pendapatan yang tinggi bahkan sampai berkali-kali lipat dari yang didapat di sektor lain. Bayangkan saja seorang komisaris BUMN yang menerima gaji sampai 100 juta per bulan sementara petani yang menggarap lahan pertanian 1 ha dalam satu musim tanam (4 bulan)paling tinggi mendapat penghasilan bersih 10 juta dan dalam setahun rata-rata hanya 2 musim tanam. Atau nelayan yang bekerja keras setiap hari mempertaruhkan nyawa di tengah lautan tetapi untuk menyekolahkan anaknya saja kesulitan.
Sehingga wajar saja kalau sedikit diantara lulusan PT yang lebih memilih menganggur dari pada terjun di sektor pertanian, perikanan atau peternakan. Sebenarnya kita tidak kekurangan lapangan kerja, tetapi ada lapangan kerja yang terbuka lebar yang tidak diminati oleh angkatan kerja.
Seharusnya dalam hal ini pemerintah menjadi regulator. Sehingga ketimpangan pendapatan di negara ini tidak terlalu lebar. Bagaimana mungkin kita bisa memiliki petani profesional kalau orang-orang ‘pintar’ tidak mau menjadi petani. Wajar kalau tingkat produktivitas kita tidak mengalami perubahan yang signifikan dari tahun ke tahun. Mekanisme subsidi harus dibenahi, tata niaga harus diatur. Kalau perlu pemerintah menggaji petani, dibanding menggaji PNS yang tidak produktif bahkan cenderung korupsi.
Ada permasalahan mendasar yang melilit bangsa ini sehingga terjadi kebuntuan. Pasar kita sangat besar, sehingga banyak negara yang menjadikan indonesia sebagai tujuan pasar. Padahal disisi lain banyak juga produsen kita yang kesulitan mencari pasar sehingga dia tidak dapat meningkatkan produksinya lebih dari yang dicapainya saat ini. Disinilah peranan pemerintah seharusnya bisa lebih dimaksimalkan lagi. Informasi harus dibuka lebih luas lagi. Peranan media harus dimaksimalkan dalam memberikan informasi dan pencerahan bagi masyarakat.
Mudah bagi negara mencetak uang, tetapi memproduksi barang untuk menggaransi uang itulah yang sulit. Pemerintah harus mampu menstimulasi masyarakat untuk bekerja, bukan justeru menjadi birokrasi yang menghambat masyarakat dalam kegiatan ekonominya.

Salam pak boed, semoga jika terpilih mampu menjalankan agenda ekonomi dengan baik.

romadi - July, 06 2009 @ 13:23

KAPAN JADI CAPRES PAK

AKU AKAM MEMILIHMU……………

Malik Mujiongko - July, 06 2009 @ 21:19

Pesan dari Universe untuk calon pemimpin:
Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat (An Nisa 58)
Semoga engkau mengambil pelajaran daripadanya,bahwa memimpin adalah amanah yang akan dipertanggung jawabkan, oleh sebab itu apa yang kau janjikan harus kau lakukan, semoga atas nama kebenaran dan keadilan yang amanah yang akan menang dan membawa ummat ini menjadi ummat yang besar dan baik dimata Tuhan penguasa Universe..
Doaku untukmu para wali : Semoga engkau ditinggikan dalam keilmuan dan ketulusan hati dalam memimppin negeri, agar negeriku menjadi tempat tumbuhnya calon anak2ku yang dalam dalam ilmu, tinggi dalam ahlak dan menjadi mahluk yang kuat dalam menjaga amanah.. kalau memang melalaui orang inilah doa ini bisa terwujud maka berikanlah kemudahan kepadanya..kalau orang ini lah yang akan membawa kami ke dalam jeratan hutang dan kenistaan dunia maka berikanlah ampunan kepadanya..
aku lebih rela bangsaku menderita kelaparan tapi punya jiwa yang tulus,iklas dalam kuasa tuhan dibanding menjadi kaya tapi berbuat kerusakan..
semoga kita mengambil hikmah dari pemilu ini..

ali fahmi - July, 15 2009 @ 11:56

Yth. Pak Boed.
Sebagai warga masyarakat Banjar dan salah seorang anggota KAGAMA, saya melihat salah satu contoh daerah KALSEL yang mengembangkan pertumbuhan ekonomi melalui sektor pertambangan yang tidak ramah lingkungan, dampak yang diterima masyarakat lebih banyak mudaratnya dari pada positifnya. Lingkungan alam di Kalsel rusak dan penerimaan daerah dari sektor tambang tidak cukup untuk memperbaiki alam yang rusak dari hasil dampak pertambangan tersebut. Kami berharap pada Bapak merelakan pak Taufik Effendi untuk pulang kampung membenahi lingkungan di kampung halaman yang rusak ini sebagai pemimpin daerah Kalsel untuk membangun daerah. Terima kasih

kiki - August, 27 2009 @ 14:21

PAK KOK INONESIA MASIH DITEROR

Juni Hariyanto Purnomo - January, 06 2010 @ 23:02

asslmkum pak.. saya heran kenapa orang pada ribut tentang neolib itu, pdhal dah jelas sekali bapak adlah orang jenius yg berpengaruh di indonesia ne dan bekerja serta mengabdi di indonesia…saya dh baca buku sampean n kok mch juga ya ada yg mengkritik, apa dia emg begog ato mencari kslahan orang… ato mrka tdk faham buku bpk orang sbuk dengan mengamati dan mencari ksalahan bapak tp mereka tidak sadar akan kejahatan dan kejelekan dirinya…dan tdk melihat ap yg sdh dia lkkan pada indonesia… bapak bener-bener orang jenius n marvelutation… gmna cr bapak senyum shngga manis skli… smga sy bisa senyum kayak bapak… gaya bicara n smuanya simple bgt… n i like it…

Beri Komentar

 

You need to log in to vote

The blog owner requires users to be logged in to be able to vote for this post.

Alternatively, if you do not have an account yet you can create one here.

Powered by Vote It Up