Globalisasi dan Pekerjaan Rumah Kita

Apakah globalisasi baik atau buruk bagi kita ?
Jawabannya tentu bergantung pada siapa yang kita tanya. Para investor global akan mengatakan bahwa globalisasi jelas sangat baik bagi semua. Sebaliknya, para pengunjuk rasa anti globalisasi akan mengatakan bahwa globalisasi sangat buruk bagi semua. Namun sebaiknya kita bertanya saja kepada para ahli. Di antara para ahli pun tentu ada pebedaan pendapat. tetapi kalau saya boleh menyimpulkan, kebanyakan ahli berpendapat bahwa globalisasi adalah fakta sejarah yang merupakan konsekuensi dari evolusi sejarah manusia (Stiglitz, 2000). Globalisasi bukanlah proses yang deterministik, tetapi bentuk konkretnya pada suatu kurun waktu bergantung pada sikap dan respons masyarakat dunia. Dampaknya bisa baik dan bisa buruk, bergantung pada bagaimana masyarakat dunia bersepakat untuk mengelola proses globalisasi itu, dan bagaimana masing-masing negara meresponsnya.
Sayang di negara kita tidak jarang kita jumpai, bahkan dikalangan kaum terpelajar, orang-orang yang dari awal sudah mempunyai pra-konsepsi negatif mengenai globalisasi. Globalisasi kadang kala langsung diidentikkan dengan imperialisme internasional dengan baju baru, atau ditafsirkan sebagai pertarungan antara kapitalisme dan sosialisme, atau antara Timur dan Barat, atau bahkan antara dua peradaban besar dunia, antara Islam dan Kristen dan sebagainya.
Konstruksi permasalahan seperti ini tidak menguntungkan kita karena cenderung mengalihkan energi kita ke bidang ideologis dan tataran wacana abstrak. Sedangkan yang sebenarnya lebih diperlukan dan langsung memberi manfaat bagi rakyat adalah bagaimana pada tataran praktis kita dapat memanfaatkan peluang-peluang bagi kepentingan nasional kita. Untuk itu kita perlu mendalami dan menguasai seluk-beluk operasional globalisasi seperti yang terjadi di dunia nyata dan kemudian menata dan merumuskan langakh-langkah konkret dan operasional untuk mencapai tujuan yang sudah saya sebut tadi.
Secara makro, pekerjaan rumah kita yang utama adalah menyusun strategi dan program untuk menyiapkan diri kita sebagai bangsa agar secepatnya menjadi pemain yang “menang” dalam kancah globalisasi. Ke sinilah seharusnya kita mengarahkan energi. Perbedaan pendapat di antara kita pasti akan timbul. Itu wajar dan bahkan sehat. Namun apapun perbedaan itu jangan sampai kita terperangkap ke dalam kungkungan dogma-dogma dan ideologi beku yang membuat pikiran kita tertutup dan tidak mempunyai toleransi terhadap pandangan alternatif, terhadap kemungkinan bahwa orang lain bisa benar. Dogmanya hanya satu: kepentingan nasional kita utamakan.
Lalu, apa yang perlu kita kerjakan dan pekerjaan rumah kita untuk mempersiapkan bangsa kita menjadi pemain global yang handal?
Mari kita mulai dari hakikat globalisasi. Dari segi ekonomi, pada intinya, globalisasi yang sedang berjalan sekarang ini adalah proses perluasan sistem ekonomi pasar ke arena internasional. Proses perluasan ini belum tuntas dan masih berjalan. Apa yang perlu kita lakukan ? Karena kita harus bermain dalam sistem ekonomi pasar global, maka langkah mendasar menurut hemat saya, adalah memperkuat kemampuan kita untuk mengelola sistem ekonomi pasar di dalam negeri agar berjalan sebaik-baiknya.
Kita sebagai pemerintah dan pelaku ekonomi nasional harus fasih menjalankan ekonomi pasar nasional kita. Kita perlu pola membangun perangkat-perangkat sistem ekonomi pasar nasional yang diperlukan dan memastikannya agar kinerjanya mencapai standar kerja internasional . Inilah yang dilakukan oleh negara-negara yang sebelumnya menganut sistem non-pasar seperti China, Polandia, Hungaria, Rusia, Ceko, Slovakia, dan banyak negara-negara transisi lainnya. Ini pulalah yang dilakukan India, Turki, Brazil dan banyak negara berkembang lain yang sudah menganut sistem ekonomi pasar tetapi belum memiliki perangkat-perangkat institusional yang lengkap atau bertaraf internasional secara utuh. Ini pulalah yang harus dilakukan Indonesia - membangun dan meningkatkan standar kinerja perangkat-perangkat sistem ekonomi pasar di dalam negeri sehingga berjalan baik dan dengan demikian siap bertarung di arena internasional.
Sambil melakukan pekerjaan rumah ini kita juga harus selalu siap berpartisipasi aktif dalam forum-forum internasional utama yang ada, karena di sinilah kita menegosiasikan kepentingan nasional kita. Dengan kata lain, kita harus melakukan diplomasi aktif sejak awal. Kalau tidak kita akan ketinggalan kereta. Diplomasi yang dimaksud adalah smart diplomacy, yakni melihat secara jeli peluang dan kepentingan nasional yang sesungguhnya serta tidak terhanyut oleh slogan dan dan retorika. Karena perundingan mengenai aturan-aturan main di tingkat global saat ini sedang berjalan dengan gencar, kita tidak bisa bersantai-santai dan baru aktif setelah kita benar-benar siap nanti. Tidak ada waktu untuk itu. Kemampuan diplomasi kita harus kita tingkatkan secepatnya.
Kembali pada masalah membangun perangkat-perangkat institusional yang diperlukan untuk mendukung sistem ekonomi pasar nasional yang moderen dan bekerja baik. Pembangunan sistem ekonomi pasar nasional yang andal merupakan pra-kondisi bagi keberhasilan kita dalam bertarung di kancah ekonomi global. Apa saja yang diperlukan ? Perangkat institusional ini banyak dan mencakup bidang politik, hukum, ekonomi, birokrasi, dan sosial.
Di bidang politik, menurut para ahli, sistem demokrasi adalah sistem yang kompatibel dengan sistem ekonomi pasar modern, paling tidak dalam jangka panjang (Sen, 1999). Ini sudah kita mulai dan perlu terus dimantapkan. Perangkat kelembagaan yang sangat penting bagi kerjasama ekonomi pasar modern adalah perangkat kelembagaan hukum. Law and order adalah landasan bagi setiap masyarakat. Lebih khusus lagi, ekonomi pasar memerlukan hukum yang jelas dan pasti yang mengatur hak milik dan kontrak, karena hal ini adalah landasan transaksi ekonomi ( North, 1990 ; Olson, 1998, 2000 ; Rodrik 2001). Perangkat di bidang ekonomi untuk mendukung sistem ekonomi pasar yang efisien dan produktif mencakup banyak hal, antara lain : mata uang yang stabil, lembaga keuangan yang andal dan pasar yang kompetitif. Sistem ekonomi pasar tidak akan dapat bekerja secara efisien apabila tidak ditopang oleh administrasi pemerintahan yang berfungsi baik. Karena itu, reformasi birokrasi mutlak perlu dilaksanakan.
Terakhir, sistem ekonomi pasar harus dilengkapi dengan sistem perlindungan sosial, dari yang paling sederhana seperti pengurangan kemiskinan, yang lebih sophisticated seperti jaring pengaman sosial, hingga yang paling modern seperti social security system di negara-negara maju. Apabila kita menginginkan tidak terjadi gejolak sosial dan tindakan-tindakan anti-sosial yang mengganggu bekerjanya mekanisme pasar itu sendiri. Dengan adanya perangkat-perangkat kelembagaan di atas, maka sistem ekonomi pasar yang kita punyai menjadi lengkap. Sebagian dari perangkat intsitusi di atas telah kita miliki dan sedang kita sempurnakan.
Sekarang apa yang diperlukan untuk membangun kemampuan diplomasi atau kemampuan melakukan negosiasi di forum-forum internasional untuk memperjuangkan kepentingan nasional? Harus kita akui bahwa di bidang diplomasi ekonomi kita masih tertinggal jauh dari negara-negara maju, dan masih tertinggal bahkan dibanding dengan beberapa negara ASEAN. Diplomasi yang efektif memerlukan blueprint strategy yang jelas dan dimengerti oleh para pelaksananya, kontingen negosiator dan staf pendukung yang andal dan terorganisir secara baik, serta jaringan informasi dan komunikasi yang mendukung. Banyak yang masih harus kita bangun di semua front ini; politik, hukum, ekonomi, birokrasi, dan sosial.
Salam,
Boediono





Komentar
9 Komentar
Kembali ke Jati Diri Bangsa.
pikiran yang cerdas : salute to Boediono
Selamat atas terpilihnya. Saya kagum dengan artikelnya yang inspiratif. Saya tertarik untuk mengetahui pandangan Bapak Wakil Presiden dengan lebih detail mengenai ekonomi. Dalam hal pasar kompetitif, apakah Bapak ada maksud mem-privatisasi perusahaan-perusahaan yang sekarang masih menjadi milik BUMN seperti Pertamina berhubung dengan masuknya kompetisi dari perusahaan asing seperti Shell?
Keberbedaan adalah anugerah Allah SWT, karena kehendak Nya pula maka hampir 1 milyar manusia di dunia diciptakan berbeda oleh Allah SWT, akan tetapi perlu kita renungkan pula bahwa manusia diciptakan berumpun-rumpun, berbangsa-bangsa yang pastinya mempunyai persamaan secara garis besar seperti warna kulit, budaya, termasuk keinginan mewujudkan kesejahteran, kemajuan bagi kelompok bangsa seperti kita bangsa Indonesia. Menerima secara arif globalisasi menjadi satu keharusan bagi bangsa ini tentunya dengan langkah-langkah strategis yang akan dirumuskan oleh pemerintah mendatang selaku nakhoda bangsa ini. Nilai baik atau buruk nya dampak globalisasi KITA yang harus menentukan, karena globalisasi datang dan akan masuk dengan atau tanpa kulonuwun kepada bangsa ini, menyeruak kedalam semua sendi kehidupan dimanapun kita berada selama ada akses informasi, So baik atau buruk seharusnya sudah tidak menjadi dikotomi lagi untuk kita perdebatkan siang malam. Saatnya seluruh komponen bangsa ini bersama pemerintah mulai merumuskan mana yang akan kita sepakati sebagai NILAI BAIK GLOBALISASI yang akan kita dorong seoptimal mungkin dan bersama pula kita MINIMALISIR NILAI BURUK GLOBALISASI yang sekiranya akan melemahkan sendi-sendi kehidupan bangsa ini. Pak Boed tolong tetap pertahankan blog ini dan tingkatkan dengan tulisan dan pemikiran yang bermanfaat sehingga setiap orang yang membuka jendela blog ini boleh berharap akan mendapat nilai tambah minimal bagi dirinya sendiri dan saat menutup jendela blog dapat bersyukur atas wawasan/ilmu yang didapat. Amin
Pak Boediono yth,
Salah satu kunci keberhasilan menghadapi globalisasi adalah menciptakan kwalitas SDM yg sangat baik dan hal ini hanya bisa dicapai melalui pendidikan yg berkwalitas pula.
Tetapi saya melihat banyak nya kendala dalam menciptakan kwalitas pendidikan yg baik. Contoh yg paling sederhana saja adalah harga buku yg masih mahal di negeri ini terutama utk buku2 import yg sangat berguna utk meningkatkan kwalitas pengetahuan masyarakat. Mahasiswa dan juga khalayak ramai yg ingin meningkatkan kwalitas pengetahuan mereka sangat terkendala karena hal ini.
Di Singapore dan Malaysia harga buku import bisa lebih murah setelah di konversi kurs kan dgn harga yg tertera di cover buku tersebut. Sedangkan di Indonesia bisa berkali2 lipat lebih mahal. Kata nya hal ini disebabkan karena masih dikenakan nya pajak yg cukup tinggi kepada buku import meski pun buku tersebut adalah text book atau buku2 ilmu pengetahuan lainnya.
Di China dan India buku2 “import” ini bahkan jauh lebih murah dari di negeri asal nya karena di cetak secara lokal (ntah secara royalti atau bajak, saya juga kurang tahu).
Kalau pak Boediono dan pak SBY di tetapkan sebagai wapres dan presiden utk tahun 2009-2014 kedepan, mau kah bapak melihat permasalahan ini ? Saya berharap bahwa harga buku baik terbitan lokal maupun import bisa terjangkau di negeri ini, sehingga kwalitas SDM kita bertambah baik utk menghadapi era globalisasi ini. Syukur2 kita bisa mencetak buku2 import di dalam negeri melalui lisensi sehingga harga nya sungguh2 terjangkau masyarakat luas.
Terima kasih sudah mau mendengarkan unek-unek saya ini.
bapak…
semenjak saya melihat bapak,mendengar bapak berorasi,berinteraksi ataupun berdebat,saya kagum dengan bapak yang kalem dan tidak terbawa nafsu….
saya juga berpendapat bapak layak dan pantas untuk mendampingi bapak SBY menjadi cawapresnya……
pesan saya , penuhilah aspirasi rakyat semampu bapak…………..
lihatlah kami…….
saya percaya ,bapak bersama bapak SBY dapat menjalankan pemerintahan dengan baik dan bersih……..
tetaplah menjadi pribadi yang santun,ramah dan sederhana…
UGI SUPRIATNA,pelajar
BLUE PRINT STRATEGY adalah kunci untuk bergeraknya pembangunan. Apalagi untuk para diplomat kita. Sungguh sangat penting. Mungkin perlu kita amati bagaimana para diplomat USA mengawali negosiasinya. Jika berkaitan dengan bidang pertanian, maka awal katanya adalah “On behalf of our farmers”. Jika berkaitan dengan negosiasi perdagangan “On behalf of our labor”. Jika berkaitan dengan bantuan luar negeri “On behalf of our taxpayers”. Jadi blueprint strategy mereka sudah jelas. Lha kita ini On behalf of what? Kayaknya kita belum pernah mengatakan on behalf of our fishermen. Mudah-mudahan tulisan kecil ini dapat perhatian secukupnya.
MAju terus P. Boediono… Lanjutkan…
Jadi menurut Pak Boediono, Globalisasi adalah sebuah fenomena global yang tak ter-elak-kan dan harus segera kita sikapi melalui tindakan nyata, begitu?
Beri Komentar