Jalan Tengah Mas Boediono


bersihar_lubis

Tidak menebar angin sorga. Kalem. Begitulah, kesan kita melihat Boediono, ekonom yang bersama Mubyarto pernah mencetuskan “Ekonomi Pancasila” di awal Orde Baru dan belakangan tersohor sebagai Ekonomi Kerakyatan. Meskipun seorang doktor ekonomi tamatan Amerika Serikat, gaya bicaranya sederhana, mudah dimengerti dan walaupun tak berapi-api meski ia seorang cawapres yang mendampingi capres Yudhoyono.

Prospek perekonomian kita dilukiskannya tak mengumbar optimisme yang berlebihan. Tapi realistis. Harga komoditas di pasar dunia masih akan bergelombang di waktu-waktu mendatang, meski mulai membaik di kuartal II 2009. Memang, kondisi perekonomian tak segawat yang dibayangkan, dan berbeda jauh saat krisis 1997-1998 lalu.

Terbukti di antara banyak negara terkenal dampak serius krisis finansial internasional, pertumbuhan Indonesia masih survive setelah China dan India.

Demikianlah Boediono bertutur dalam seminar “ Indonesia di tengah Krisis Global”, Selasa (9/6) di Ball Room Hotel Grand Angkasa Medan.

Menghadapi “kemungkinan masa sulit ekspor komoditas”, Boediono menawarkan agar segenap unsur terkait perdagangan harus memperkaya jenis komoditas ekspor, sehingga sedikit demi sedikit menjadi bukit.

Sumater Utara yang dikenal sebagai penghasil CPO dan karet, harus menemukan cara agar gelombang fluktuasi permintaan impor menjadi peluang. Salah satu cara dengan memperluas pasar CPO ke berbagai negara sehingga pasar ekspor terjaga, dan tidak terlalu drop.

Economy Command

Berbicara tentang pembangunan infrastruktur yang bisa memacu pertumbuhan dan seterusnya menampung tenaga kerja serta multiplier effect lainnya, Boediono memilih bersikap small is beautiful ala Schumacher yang kondang itu. Meskipun dananya tak terlalu besar, ia berkehendak agar proyek infrastruktur haruslah mengutamakan yang berdampak kepada kepentingan mayoritas rakyat.

Memang, dananya saban tahun meningkat. Jika pada APBN 2004 masih sekitar Rp.18,7 triliun menaik menjadi Rp. 77 triliun pada 2008 lalu. Namun kebutuhan Indonesia terlalu besar, sehingga pemerintah harus bersandelbahu dengan kalangan swasta agar pembangunan infrastruktur bisa merata secara nasional.

Boediono sangat konsen dengan proyek energi listrik dan jalur transportasi berupa rel kereta api. Ia optimis karena Sumut sudah mempunyai proyek PLTU Labuan Angin, PLTA Asahan, dan PLTA Sarullam yang kelak memungkinkan merangsang pertumbuhan industri dan otomatis memotong high cost economy.

Di mata Boediono, infrastruktur tak hanya proyek fisik. Tetapi ada juga perangkat lunak, yakni pemerintahan yang bersih. Apalagi ia dengar bahwa Sumut belumlah termasuk sebuah provinsi dalam peringkat yang wangi kinerja good governance dan good government.

Boediono benar. Manakala pilihan Indonesia adalah ekonomi kerakyatan, dan bukan pasar bebas lepas, sehingga regulasi dan intervensi pemerintah menjadi penting, sangat berbahaya jika pemerintahan masih berbau KKN.

Bisa-bisa terulang economy command, di mana yang makmur hanya sejumlah kecil dan penguasa dan konglomerat seperti di masa Orde Baru.

Menyinggung isu ekonomi liberal, Boediono tersenyum. “Amerika saja tak mungkin seperti itu, apalagi Indonesia,” katanya. Memang di Amerika ada sekelompok ekstrem kanan sempalan Partai republik yang bahkan menihilkan peran negara. Padahal yang berkuasa di sana adalah Partai Demokrat.

Adapun Indonesia tentu saja tidak anti asing dan pasar bebas. Tapi tetap saja mengemban pasal 33 UUD 1945 yang terbukti dengan peningkatan anggaran untuk BLT, KUR, PNPM dan lainnya yang peduli rakyat miskin. “ Ya, ekonomi jalan tengah lah, “ katanya yang meraih tepuk tangan hadirin.

Bersihar Lubis

Dimuat di Medan Bisnis 10 Juni 2009

Sumber foto Bersihar Lubis : beritakotamakassar.com



Simpan dalam bentuk pdf
Bookmark and Share
Kosong

Silahkan login untuk dapat memberikan rating artikel.

Komentar

4 Komentar

jihan - June, 22 2009 @ 06:34

wah terus terang saya rada bingung dgn apa yg di maksud dgn ekonomi jalan tengah atau Yudonomics?

Saya baca berulang2, kok gak ada perbedaannya dgn sistem Suharto ya?

Suharto juga start pembangunannya dgn pembangunan infrastruktur lalu baru human capitalnya. Suharto juga membangun dgn hutang dan mempersilahkan asing masuk dan top to bottom.

Saya minta tolong dong di jelaskan apa beda Yudonomics dgn suhartonomics?

armen - June, 23 2009 @ 01:43

BLT, KUR, PNPM.
Ketika seorang bertanya apa yang pelu dilakukan untuk menolong orang sekarat secara ekonomi, memberi ikan atau kail? Jawab yang bijak adalah memberi ikan dan kail. Karena orang sekarat itu perlumakan ikan sebelum mengail. Itulah falsafah dasar BLT, KUR, PNPM, Jamkesmas dsb.
Ikannya BLT, Jamkesmas dan PNPM. Kailnya KUR. Dengan demikian orang tak berdaya, tak produktif ini dapat didorong menjadi produktif.
Tetapi lihatlah kenyataannya.
Penerima BLT dan Jamkesmas sama sekali bukan penerima KUR. Sehingga falsafah dasarnya berantakan, yang terjadi adalah pemborosan uang negara, karena salah konsep dan salah pelaksanaan.
Coba bung Lubis beri contoh 1 orang saja yang terlepas dari kemiskinan hanya karena menerima BLT. Ada nggak?
Kekhawatiran ekonomi komando sangat berlebihan. Kita adalah negara besar demokrasi yang memanjakan transparansi dan akuntabilitas. Yang tidak sebesar kitapun berhasil melaksanakannya. Lhatlah Malaysia. Ketika Mahathir berteguh hati membabat pohon getah (yang saat itu Malaysia produsen karet terbesar ke 2 didunia) dan menggantinya dengan kelapa sawit, melalui program Felda dan Felgra, apa yang terjadi diMalaysia? Ekonomi komando yang dikhawatitrkan bung Lubis atau sebaliknya? Mana lebih makmur, bumiputera Malaysia atau rakyat Indonesia?
Kalau kita bukan penganut liberalisme atau Neo liberalisme, mengapa liberalisasi pasar, liberalisasi perdagangan dan lberalisasi investasi berjalan begitu hebatnya sehingga negara dengan 230juta penduduk ini 65% ekonominya dikuasai hanya oleh 400 gelintir manusia? Neolib bagus2 saja, asal diikuti secara konsekuen memberikan social security, sehingga rakyat yang tidak produktif dengan alasan apapun, disantuni sepenuhnya oleh negara dengan penghasilan yang memadai, bukan sekedar Rp. 100.000.- per bulan.
Mulut bisa saja bicara segala rupa, tetapi fakta lebih jujur bicaranya. Saya suka orang yang santun, tetapi tidak suka yang munafik.

santoso - June, 25 2009 @ 10:54

Memang begitulah seharusnya bersikap, santun, jelas, runut dalam menjelaskan sesuatu. Jangan seperti 2 cawapres yang lain, terlalu arogan.. suka menjelek-jelekan orang lain, padahal kapasitas dan kapabiltasnya belum teruji. Apalagi kalau dilihat masa lalunya.. wow.. sungguh menyedihkan..

meybyansyah - June, 26 2009 @ 14:40

Dear Pak Armen…
Semoga ini bukan pak Armen yang pernah saya kenal
kalau mau 1 contoh orang yang bisa lepas dari kemiskinan karena dia dapat BLT saya punya pak.
saya tinggal di batam tetangga saya hidup miskin dan bergantung pada saudaranya, suatu saat dia dapat BLT dan cerita pada saya agan digunakan untuk apa BLT ini? kalau saya menyuruhnya 50rb simpan untuk makan dan 50rb lagi kamu buat modal jualan makanan kecil2lan/goreng2 di depan rumah, sekarang dia engak jualan kecil-kecilan lagi di depan rumah melainkan jualan besar-besaran di kios pingirjalan yang lumayan strategis.lalu dia pernah cerita kepada saya dengan berjualan ia dan keluarganya bisa sekalian ikut makan dari laba tersebut sedikit-demi sedikit ia kumpulin sehingga bisa buat grobak dan sewa kios, dan sekarang rumahnya pun sudah mulai terisi bebrapa barang elektonik.
itu berarti dengan ada kemauan dan keahlian kita pasti akan bisa menaklukan dunia. kalau mau yang lain lagi bapak mungkin bisa ke batam dan bertemu dengan saya akan saya tunjukkan beberapa lagi…
namu saya hanya memohon agar KUR dgn bunga rendah dapat di rasakan oleh orang2 seperti tetangga saya tadi karena dia punya keinginan untuk meluaskan usanya tapi tetap terbentur dengan dana, dia harus menabung dulu agar bisa mengembangkan usahanya, saya mohon agar pemberintah memerintahkan semua bank memberikan KUR dengan bunga kecil dan Flat/tetap.

Beri Komentar

 

You need to log in to vote

The blog owner requires users to be logged in to be able to vote for this post.

Alternatively, if you do not have an account yet you can create one here.

Powered by Vote It Up