Tulisan Tamu
Oleh :
Eros Djarot ,
1 - Jul - 2009 -
5 Komentar
Oleh : Eros Djarot , Budayawan, Ketua Umum PNBK
Biasanya, memilih adalah suatu pekerjaan yang tidak mudah. Apalagi dalam kaitan memilih seorang calon pemimpin sebuah bangsa dan negara yang berpenduduk 230 juta. Tapi herannya, untuk kali ini, di Pemilu Pilpres 2009-2014, memilih pasangan Capres dan Cawapres mana yang lebih pantas dan lebih aman untuk dipercayakan memimpin negeri ini sepanjang lima tahun ke depan; dengan mudah telah saya lakukan tanpa menemukan banyak kesulitan. Artinya, menjatuhkan pilihan kepada pasangan SBY-Boediono, ternyata telah saya lakukan dengan cepat. Pertimbangannya, karena hanya pasangan inilah yang menurut saya pribadi sangat memenuhi berbagai persyaratan yang bisa dimasukan … Selengkapnya »
Oleh :
Lambang Trijono MA ,
27 - Jun - 2009 -
4 Komentar
Lambang Trijono MA
Perdebatan soal neolib dan ekonomi kerakyatan terus bergulir di tengah publik sejalan dengan semakin gencarnya kampanye pilpres 2009. Kadang debat disertai sikap rasional, kadang emosional. Terutama menyangkut penilaian terhadap cawapres Boediono, pasangan capres SBY, yang dinilai beberapa kalangan sebagai pendukung neoliberal.
Boediono sendiri sejauh ini dikenal sebagai intelektual sekaligus seorang teknokrat. Sebagai seorang intelektual, di dunia kampus Boediono dikenal sebagai intelektual tekun sekaligus taat azas,konsisten dengan pandangan intelektualnya di bidang ekonomi meski berkali-kali duduk dalam kabinet pemerintahan.
Terkait soal ekonomi kerakyatan, Boediono bukanlah orang baru yang bicara soal ini. Beliau sering bersama Pak Mubyarto, ekonom pencetus ekonomi Pancasila, ikut mengembangkan … Selengkapnya »
Oleh :
aboeprijadi ,
25 - Jun - 2009 -
5 Komentar
Penampilan perdana Boediono di panggung politik sebagai cawapres SBY, yang dideklarasikan di Sasana Budaya Ganesha Bandung 15 Mei 2009, rupanya memukau banyak orang. Salah satunya adalah Aboeprijadi Santoso, wartawan senior yang sekarang bekerja untuk Radio Nederland Wereldomroep.
“Secara pribadi saya nggak kenal (Boediono), bahkan saya melihat pertama kali secara jelas itu di televisi. Tapi saya kira banyak orang seperti saya yang pertama kali melihat di TV dan terkesan, karena pemunculan beliau itu momentum yang bagus sekali, saat deklarasi sebagai cawapres di Bandung,” kata laki-laki berkacamata yang biasa disapa Tossi ini.
“Saya kira banyak orang terkesan pada momentum, itu momentum emas. Yang terpancar itu kejujuran, … Selengkapnya »
Oleh :
redaksi ,
25 - Jun - 2009 -
24 Komentar
Dr. M. Chatib Basri
“Boediono adalah sosok yang bersahaja”, begitu ungkap M. Chatib Basri. Seorang yang banyak bekerja dan sedikit bicara. Ia mencontohkan bagaimana seluruh perjalan hidup Boediono, mulai dari menteri di Bappenas, kemudian Menteri Keuangan, Menko Perekonomian sampai Gubernur Bank Indonesia, waktu Boediono praktis dihabiskan untuk menyelesaikan persoalan-persoalan ekonomi yang dihadapi Indonesia. Termasuk situasi paling berat pada tahun 1998 sampai sekarang menghadapi krisis global, imbuh Chatib. “Jadi, dari segi kompetensi saya kira Pak Boediono sulit dicari tandingannya dalam hal pengalaman. Karena untuk seorang ekonom, yang penting itu adalah jam terbang.” jelas Direktur LPEM-FEUI ini.
Chatib menyayangkan adanya anggapan bahwa pengalaman politik … Selengkapnya »
Oleh :
Ulil Abshar ,
22 - Jun - 2009 -
16 Komentar
“Diantara tiga calon wakil presiden yang ada sekarang, yang paling sreg buat saya adalah Pak Boediono. Dibanding Wiranto apalagi Prabowo tentu saja sosok Boediono lebih baik dari dua yang lain,” kata Ulil Abshar Abdalla, mantan koordinator Jaringan Islam Liberal (JIL).
Meski mengaku tak memiliki informasi detil soal pribadi Boediono, Ulil mempunyai kesan bahwa Boediono adalah orang yang jujur, pekerja keras, dengan mind set : to get things done. ”Maksudnya seorang pekerja yang bukan hanya seorang yang membuat konsep saja, tapi mampu membuat, melaksanakan. Dan itu yang kita butuhkan. Karena, masalah yang begitu ruwet di negara kita ini butuh seorang … Selengkapnya »
Oleh :
Trisno Sutanto ,
21 - Jun - 2009 -
3 Komentar
Sumber Foto : islamlib.com
“Saya tak mengenal Pak Boediono sama sekali, ketika SBY memilih dia, saya terkejut. Diluar dugaan semua kalangan. Tetapi saya suka ketika Pak Boediono memberikan sambutan di Stovia, saya tak bisa datang. Saya hanya membaca dari teman-teman, tapi sambutan itu menyentuh hal-hal yang cukup mendasar. Dan saya kagum sekaligus heran kok parpol-parpol justru tidak menyentuh, masalah ini. Orang non parpol yang berani menyentuh soal-soal itu,” kata Trisno Sutanto, Direktur Program Masyarakat Dialog Antar Agama (MADIA).
“Mungkin karena pengalaman Pak Boediono sebagai ekonom dan melihat realitas masyarakat secara jernih, tanpa pengaruh idelogis dan lain-lain. Kemajemukan masyarakat dia lihat sebagai sesuatu potensi … Selengkapnya »
Oleh :
Bersihar Lubis ,
17 - Jun - 2009 -
4 Komentar
Tidak menebar angin sorga. Kalem. Begitulah, kesan kita melihat Boediono, ekonom yang bersama Mubyarto pernah mencetuskan “Ekonomi Pancasila” di awal Orde Baru dan belakangan tersohor sebagai Ekonomi Kerakyatan. Meskipun seorang doktor ekonomi tamatan Amerika Serikat, gaya bicaranya sederhana, mudah dimengerti dan walaupun tak berapi-api meski ia seorang cawapres yang mendampingi capres Yudhoyono.
Prospek perekonomian kita dilukiskannya tak mengumbar optimisme yang berlebihan. Tapi realistis. Harga komoditas di pasar dunia masih akan bergelombang di waktu-waktu mendatang, meski mulai membaik di kuartal II 2009. Memang, kondisi perekonomian tak segawat yang dibayangkan, dan berbeda jauh saat krisis 1997-1998 lalu.
Terbukti di antara banyak negara terkenal … Selengkapnya »
Oleh :
Tony Prasetiantono ,
17 - Jun - 2009 -
5 Komentar
Di kampus Fakultas Ekonomi UGM, Yogyakarta, kami biasa memanggil Dr Boediono sebagai Pak Boed. Saya mengenalnya sejak 1981, saat mulai kuliah di UGM. Beliau mengajar Pengantar Ekonomi I (mikro) dan II (makro). Di sekolah kami, sudah menjadi tradisi bahwa matakuliah pengantar biasanya diasuh oleh dosen senior yang mumpuni. Gunanya agar mahasiswa memperoleh fondasi yang kuat.
Selain itu, Pak Boed juga mengajar matakuliah Ekonomi Indonesia. Matakuliah ini biasa diambil mahasiswa di semester terakhir. Pengajarnya biasanya dosen yang top markotop. Kelas paralelnya diasuh oleh “nama besar” lain, yakni Profesor Mubyarto (almarhum, 2005).
Kuliah Pak Boed dilakukan sore hari, biasanya beliau hadir dengan rapi, sehabis mandi, … Selengkapnya »
Oleh :
Wimar Witoelar ,
15 - Jun - 2009 -
20 Komentar
Wimar Witoelar
Saya sudah dengar buzz banyak mengenai situs ini. Saya senang sekarang ada media yang menyampaikan keberadaan Pak Boediono secara the medium is the message. Bagus bahwa Boediono ada di dunia blog, tapi ingat bahwa orang lain juga ada disitu,” kata Wimar Witoelar mengomentari lahirnya situs boedionomendengar.com ini.
“It is very good dia (Boediono) ada disitu (internet) tapi sekarang dia bukan satu-satunya, jadi isinya harus terus membedakan Boediono dari kandidat lain. Saya lihat sekarang isinya sangat sesuai dengan kepribadian beliau, jadi saya hanya bisa bilang stay the way you are, mungkin dibantu staf keluarkan soundbite yang asik mengenai neoliberal , jadi untuk meng-counter mitos-mitos yang beredar dengan ganas di … Selengkapnya »
Oleh :
Faisal Basri ,
15 - Jun - 2009 -
30 Komentar
Oleh Faisal Basri.
Saya pertama kali mengenal Pak Boed pada akhir 1970-an lewat buku-bukunya yang enak dibaca, ringkas, dan padat. Pada akhir 1970-an. Kalau tak salah, judul-judul bukunya selalu dialawali dengan kata ”sinopsis,” ada Sinopsis Makroekonomi, Sinopsis Mikroekonomi, Sinopsis Ekonomi Moneter, dan Sinopsis Ekonomi Internasional. Kita mendapatkan saripati ilmu ekonomi dari buku-bukunya yang mudah dicerna.
Pada suatu kesempatan, Pak Boed mengutarakan pada saya niatnya untuk merevisi buku-bukunya itu. Mungkin ia berniat untuk menulis lebih serius sehingga bisa menghasilkan buku teks yang lebih utuh. Kala itu saya menangkap keinginan kuat Pak Boed untuk kembali ke kampus dan menyisihkan waktu lebih banyak menulis buku. … Selengkapnya »
Social Network