Kita yang Menanam, Anak Cucu yang Memanen

Kita perlu bertanya pada diri kita, apakah kita berada pada jalur yang benar selama ini ? Apakah kita berada pada jalur yang akan membawa kita ke tujuan reformasi atau tidak ? Jawabannya, dengan sejumlah catatan penting, adalah : ya, kita berada pada “jalur yang benar”. Kita telah menjatuhkan pilihan, yaitu memilih jalur demokrasi untuk membangun bangsa kita. Dengan pilihan tersebut, serta dengan menarik pelajaran dari pengalaman sendiri dan pengalaman negara-negara lain yang mengikuti jalur ini, kita memperoleh gambaran mengenai jalan yang kemungkinan akan kita lalui ke depan.
Pada tahap awal, faktor ekonomi sangat menentukan. Kemungkinan kegagalan demokrasi sangat tinggi pada tingkat penghasilan per kapita rendah dan secara progresif menurun dengan kenaikan penghasilan. Ekonomi dapat tumbuh tanpa demokrasi selama rule of law dapat ditegakkan. Pada tingkat kemakmuran lebih tinggi, demokrasi pada gilirannya akan menjadi penentu keberlanjutan peningkatan kemakmuran. Hubungan positif timbal-balik antara ekonomi dan demokrasi makin kuat.
Pada setiap tahap, peran kelompok pembaharu, yaitu suatu koalisi kekuatan lintas-kelompok masyarakat yang disatukan oleh platform yang mendukung modernisasi dan demokratisasi, sangat krusial. Kelompok ini akan tumbuh subur dalam lingkungan ekonomi yang tumbuh secara tersebar dan dilandasi tatakelola yang baik dan iklim usaha yang sehat.
Ada TIGA resiko besar yang harus dihadapi dalam membangun bangsa ini. Resiko paling MENDASAR bagi Indonesia adalah bagaimana menjaga eksistensi dan keutuhan bangsa sepanjang perjalanan transformasinya. Kita memiliki modal politik yang cukup untuk ini, tetapi ia harus terus-menerus dipupuk kembali dan diperkuat. Program penguatan kesadaran berbangsa dan nation-building harus tetap menjadi bagian integral dari pembangunan Indonesia. keikutsertaan kita dalam globalisasi tidak boleh melengahkan kita dalam nation-building.
Resiko besar KEDUA yang kita hadapi adalah tingkat kemakmuran ekonomi bangsa yang masih rendah sehingga resiko kegagalan demokrasi makin tinggi. Pada tahap ini Indonesia sebaiknya memberikan prioritas tertinggi pada upaya memacu pertumbuhan ekonomi dan sejauh mungkin menghindari krisis ekonomi. Untuk mendukung kinerja ekonomi kita harus berani menarik garis strategis mengenai imbangan yang pas antara teknokrasi dan demokrasi. Diperlukan waktu yang cukup untuk mencapai “zona aman” bagi demokrasinya. Sementara itu, berbagai kerawanan aka bersama kita dan demokrasi yang baru mekar ini perlu dikawal.
Resiko besar KETIGA adalah apabila kelompok pembaharu yang handal tidak dapat berkembang. Apabila ini terjadi, proses transformasi akan mandek di tengah jalan atau membelok salah arah. Pengalaman sejarah kita dan negara lain menujukkan bahwa timbulnya KKN, kroniisme, dan praktek monopolistik merupakan faktor risiko besar yang menghadang kita. Kita tidak boleh mengulang pengalaman pahit kita. Kelompok pembaharulah yang diharapkan mengawal prose transformasi agar tetap berjalan, dan berjalan di jalur yang benar.
Perkembangan kelompok ini dapat dan perlu didorong dengan: (1) menjaga agar pertumbuhan ekonomi tersebar dan ditopang oleh good governance dan iklim usaha yang sehat, (2) mendorong perkembangan UKM, (3) mengupayakan penyatuan kekuatan pribumi dan non-pribumi, (4) menyediakan pendidikan bermutu bagi kelompok pembaharu, dan (5) tetap menjaga keterbukaan dan interaksi kita dengan dunia luar.
Itulah inti pembahasan kali ini. Semua langkah yang saya sebutkan hanya akan membuahkan hasil dalam jangka panjang. Generasi kita ditakdirkan menanam, anak cucu kita yang memanen.
Salam,
Boediono
(Sumber ilustrasi dari bi.go.id)





Komentar
23 Komentar
halo pak Boed, beneran nih tulisan anda yang di atas?
menurut saya, semua itu baru sebatas wacana pak. tidak jelas kapan bangsa indonesia ini bakalan maju, padahal banyak orang pintar di sini, termasuk yang pintar ngibul hehehe..
mungkin karena politik devide et impera masih dipakai dan KKN masih mengakar di budaya kita, jadi sulit untuk bekerja sama membangun bangsa.
salam kompak selalu
Salam pak Boediono (or Admin)
saya salah satu yang sangat anti dengan kaum kapitalisme, mudah-mudahan anda benar-benar bukan satu di antaranya..tidak seperti yang didengungkan media massa kan pak?lagian dari Kampus Rakyat kok, hehe..Saya ingat cerita teman kos saya, dia cerita ada dosen bernama Boediono yang masih menyempatkan mengajar di hari sabtu, padahal senin sampai jumat dia bertugas sebagai menteri di jakarta..
Saya kutip dari tulisan di atas :
“..apabila kelompok pembaharu yang handal tidak dapat berkembang…”
Sebenarnya kelompok pembaharu itu ada, dan selalu tersedia dalam jumlah besar setiap tahun..tapi larinya banyak ke sektor swasta, cobalah perbaiki BUMN yang menurut kita tidak efisien itu dengan generasi pembaharu..mau tau generasi pembaharu? gampang, rekruitmen di kampus saja, ratusan mahasiswa yang segar dan penuh dengan idealis, jaga jangan sampai terkontaminasi..maka pasti ok…sekedar pemikiran
Pak Boediono,
Saya adalah salah satu pengagum anda….saya harapkan ketika anda menjadi wapres nantinya, tolong sekali dibenahin seluruh birokrasi pemerintah yang berkaitan dengan bisnis perusahaan sehingga bisa menekan segala macam uang2 liar yang berimbas kepada biaya yang lebih baik diberikan kepada employee dan meninkatkan kepercayaan investor asing ke indonesia…babat aja dech birokrat yang masih punya paradigman kampungan
selamat malam Pak Boed,
Saya ikut demo tahun 1998 dan saya juga melihat serta mengamati bagaimana pergeseran politik pasca reformasi. Saya sependapat dengan mas hengky, jangan cuma sebatas wacana…karena semua capres dan cawapres sekarang paling pintar memberikan wacana dan janji2. Tadi siang saya melihat Bang One, dan disitu diperlihatkan bagaimana para capres dan cawapres berlomba mengambil hati rakyat selama kampanye dan setelah selesai, mereka yang terpilih lupa pada rakyat. Sloga atau jargon peduli rakyat cilik cuma sekedar jargon pada saat kampanye. Saya saat ini bekerja sebagai pendidik (guru) untuk mata pelajaran Matematika dan saya tidak melulu mengajar matematika tapi juga menanamkan wawasan kebangsaan buat anak didik saya, karena mayoritas mereka suku tionghua dan mereka akan belajar ke luar negeri. Saya selalu menekankan kepada mereka untuk mencintai bangsa ini dan berkarya buat bangsa ini. Tapi mereka selalu pesimis melihat masa depan bangsa ini. Kebetulan kurikulum yang kami pakai adalah IB DP jadi kami selalu berdiskusi tentang berbagai isu yang terjadi di indonesia dan dunia, paling tidak 10 menit sebelum pelajaran matematika kami membahas masalah2 tersebut. Jadi harapan saya, Pak Boed benar2 bisa menepati apa2 saja yang dijanjikan nantinya jika bersama pak SBY terpilih menjadi Presiden dan Wakil..Tuhan memberkati.
Ranto Silitonga
pinter banget..dan bisa main guitar..saya salute
malam pab Bud. Kami kaum kecil di daerah tidak mengerti dgn apa yang bapak tulis. yang kami tau hanya kehidupan nyata yang sulit untuk mencari nafkah, jalan di daerah kami yang sejak saya lahir, 38th yg lalu, tidak pernah mulus dan banyak lagi kemajuan di kota yang tidak kami rasakan. Belum lagi pemberantasan korupsi, sepertinya di daerah kami yang kecil, hampir tidak menyentuh ke daerah kecil, padahal justru kasian sekali, dah anggarannya kecil, eh di korupsi lagi. Kalo bapak dan SBY terpilih, mohon lebih memperhatikan kami yg di daerah. Jgn lupa pak, pembangunan yg dirasakan di kota, hasilnya dari daerah. Kayu untuk furniture di senayan, di tebang di daerah. Mohon Pak.
pagi pak bud.kami dari kaum komunitas skinhead………saya hanya mnta perubahan yg pas untuk rakyat dan bangsa indonesia…..dan jgn lah perbanyak mall d indonesia kasian kan kaum kecil dan pasar tradisional,,,,
Tentang politik hutang. Apakah bijaksana mengganti hutang luar negeri dengan SUN dan obligasi? Hutang kita sudah 33% GDP. Apakah masih terus akan dilanjutkan? Apakah penggunaan huang kita sudah meningkatkan produktivitas bangsa? Apakah memanjakan konglomerat dengan 90%dana stimulus adalah kebijakan yang terbaik?
Tentang pengangguran dan kemiskinan. Strategi spesifik apa yang akan ditempuh untuk mengatasi pengangguran dan kemiskinan? Menurut Bappenas, 1% pertumbuhan ekonomi hanya menyerap 400ribu lapangan kerja, dengan biaya 50 Triliun.Sementara angkatan kerja kita bertambah sekitar 5 juta per tahun. Mungkinkah ekonomi kita tumbuh secara konsisten 13% per tahun dengan sistem yang sekarang? Apakah membiarkan 65% ekonomi Indonesia dikuasai 400 keluarga sudah merupakan pilihan terbaik? Lalu didonasi 70 triliun agar mereka tidak kolaps? Dan tahun depan 50 Triliun lagi?
Tentang pemberantasan korupsi. Apakah pola pemberantasan korupsi yang sekarang mampu menghapus korupsi dari bumi Indonesia? Mengapa kita masih menjadi negara paling korup juga? Mengapa tidak ada keinginan menerapkan sistem pemberantasan korupsi Cina?
Pak Boed, saya menyesalkan pilihan posisi Anda. Kita yang menanam hutang, Anak cucu yang memanen, menaggung beban pembayaran kembalinya.
kalo bener bisa dijalankan alhamdulillah saja yg bisa saya ucapkan kepada Bapak, berarti Bapak termasuk orang yg memang terpilih……
Anak-anak mengemis dipinggir jalan, dipakai alat oleh orang dewasa, mana pemimpin bangsa ini, mana wakil bangsa ini.
TKW dianggap pahlawan Defisa bagi negara, padahal tanda ketidak becusan Negara dalam memberdayakan rakyatnya untuk memaksimalkan aset-aset yang dimiliki oleh bangsa ini. baru ribut masing-masing cari muka takala ada kasus, tetapi tidak ribut terhadap ketidak mampuan negara terhadap pemberdayaan rakyat bangsa ini.
Negara hanya bisa mendidik menumbuhkan para pengemis dengan tanpa bekerja dapat uang BLT, untuk apa jaminan uang bukannya jaminan kemampuan bangsa untuk meningkatkan produktifitas.
Yang harus dilakukan oleh negara, didik dan latih seluruh bangsa ini untuk mampu berpikir rasional yaitu mengubah cara berpikir dari berpikir selalu ingin membeli dan mendapatkan apa ? harus berubah kearah produksi apa atau bisnis apa lagi supaya saya dan orang-orang disekitar kita mulai memberdayakan asetnya dan lepas dari ketergantungan negara.
Bangsa ini ribut dan demo pempermasahkan minimarket, mall, ketidak cocokan upah buruh. Inilah kesalahan negara kurang bisa mendidik bangsa ini menjadi lebih rasional, kenapa tidak ada yang meributkan ketidakmampuan pemerintah dalam membuat pasar yang bersih, indah sehingga mampu bersaing dengan maal dan minimarket-minimarket. Sekali lagi mana pemimpin bangsa ini, mana wakil rakyat ini, tolong amankan dan bela kaum kecil yaitu segera ditidak adakan anak-anak pengemis dipinggir-pinggir jalan, ini baru serius wajib belajar, ini baru serius membela kaum miskin.
Slogan “Kita Yang Menanam, Anak Cucu Yang Memanen” memang terasa indah dan dapat menarik simpati masyarakat banyak, tetapi slogan ini terlalu berada diangan - angan. Kenapa ? Karena pekerjaan Bapak baru dapat dirasakan 50 tahun ke depan. Dimana para pemilih / konstituen Bapak sudah menjadi tua-tua atau sudah meninggal dunia.
Disamping itu, masih ada pertanyaan lain, Anak Cucu siapa yang akan meninkmati ? Sudah pasti anak cucu Bapak. Anak cucu para konstituen Bapak belum tentu dapat menikmatinya.
Alangkah baiknya program jangka pendek lebih diutamakan guna menanggulangi keadaan masyarakat indonesia masih pada susah.
Lebih Cepat Lebih Baik, itu lebih Tepat.
@ Edward: Anda ini dijanjikan menjabat sebagai apa oleh JK-WIN… ?? Anda tahu persoalan negara ini cukup berat dan tidak mudah untuk diselesaikan. Saya yakin siapapun yang memimpin akan menghadapi masalah yang sama…apalagi JK-WIN saya pesimis kalau beliau punya konsep yang baik untuk mengatasi masalah secara cepat…mengingat sikap JK yang kurang pas sebagai seorang calon pemimpin menunjukan bahwa kurangnya wawasan berorganisasi sangat berpengaruh terhadap langkah dan keputusan yang akan akan diambil…
Pak Boed, “topeng” Anda sudah ketahuan. Nama anda trdaftar sebagai anggota IMF untuk Indonesia. Kasarnya anda “makelar”-nya. Saya jd tambah yakin anda adalah orang Neo-Liberalisme. Saya melihat teman anda adalah orang-orang Liberal: ulil abshar abdala (Kafir Liberal). Jadi apa anak-cucu saya kalau saya pilih anda. Apa mau jadi orang2 kafir sperti teman anda itu? http://www.imf.org/external/np/sec/memdir/members.htm
@Toxicolog:
kopi paste dimana om?
omongan ma referensi anda gak uptodate..
mau jadi apa anak cucu anda?? yo tergantung anda mau tetep bodoh seperti sekarang atau mau membuka mata lebar2…
Saya dari kalangan kehutanan, melihat ekonomi masyarakat saat ini sangat hancur-hancuran, terutama masyarakat yang ditinggal dipinggir kawasan hutan dan bahkan ada yang di dalam kawasan hutan. Peraturan Menteri Kehutanan yang dibuat lebih banyak memakmurkan para pengusaha2 yang telah berduit didalam memanfaatkan hasil hutan. Masyarakat memang telah diberi akses untuk memanfaatkan hasil hutan, namun mereka juga dipersamakan dengan para pengusaha yang harus mengikuti peraturan penatausahaan hasil hutan yang sedimikian rumitnya. Masyarakat dengan SDM yang rendah dan terbatas sudah barang tentu tidak akan bisa mengikuti segala aturan yang rumit dan mempunyai persyaratan2 yang banyak, pada akhirnya mereka tidak dapat memanfaatkan hasil hutan yang notabene berada didaerah mereka sendiri. Pemerintah hanya bisa mengajak danmengajak untuk menanam, tapi tidak memberikan kemudahan dikala mereka memanfaatkan hasilnya, terkadang malah mereka ditangkap dan dimasukan penjara. Sudah berapa banyak industri kayu juga tutup akibat kebijakan pemerintah sekarang, berapa banyak penggangguran yang terjadi, berapa banyak kepala keluarga yang tidak bisa menghidupi keluarganya. apa ini yang harus dilanjutkan…………………..
Ini dari naskah pengukuhan guru besar ya?
sekalipun bnyk yg pro dan kontra, saya pilih bapak dengan suatu keyakinan dalam hati saya anda jauh lebih baik daripada 2 jendral yg (maaf) cuman bisa obral janji, tapi giliran ada masalah bisanya cuci tangan.
Tapi saya suka dgn gaya bapak dan pak SBY yg ga dendam thdp masa lalu, memang kita harus berjiwa besar dan justru memikirkan hal2 apa yg bisa kita lakukan untuk perbaikan ke depannya.
Selamat berjuang pak!
@toxicolog
mediator, tolong racun otak ini diban ajah…mbuh apa bahasanya, tp sesuai dgn namanya, dia mang bisa ngeracunin orang aja, gk berani tanggung jwb. Jaman gini masih nyebut org laen kafir…??? mang cuman dia yg sembayang???
Ketika saya ditanya siapa calon presiden & wakil presiden pilihan saya, jawaban saya adalah siapapun yang menempatkan pendidikan sebagai prioritas utama untuk mendidik generasi anak bangsa yang tangguh, cerdas, bermental baik dan bertanggungjawab untuk membangun bangsa Indonesia di masa datang sebagai negara kesatuan 1 nusa, 1 bangsa, 1 bahasa di bawah 1 management tatanan negara yang mempunyai sistem pemerintahan yang terstruktur, jelas dan seluas-luasnya bekerja demi menjamin keamanan negara dan kesejahteraan rakyatnya.
Dalam pikiran saya dengan sistem managemen yang tepat, generasi baru yang tangguh, cerdas,bermental baik dan bertanggungjawab maka bisa diprediksikan Indonesia dimasa mendatang akan tumbuh menjadi bangsa Indonesia yang besar, bermartabat dan makmur.
Nantinya wakil rakyat dan eksekutif pemerintahan hanya akan dijabat oleh orang-orang yang benar-benar berkemampuan menjalankan sistem ketatanegaraan demi kemakmuran bangsanya bukan orang-orang sembarangan yang cuma menggunakan kepintarannya untuk menguntungkan dirinya sendiri dan keluarganya, teman-temannya dengan mengakali orang susah, orang lemah.
Nantinya negara akan mampu mengurusi sekaligus memanfaatkan tenaga rakyatnya untuk menjaga kekayaan alammya dan mengekspoitasi dan memelihara kekayaan alamnya untuk kesejahteraan bangsa karena rakyatnya sudah cerdas dan bermental baik.
Dalam hal ini orang-orang seperti Bapak yang saat ini akan mendapat tugas berat untuk mencari dengan cara apa agar bisa mensejahterakan 200 juta penduduk melalui kebijakan-kebijakan pemerintah. Semoga Sukses dan selamat berjuang.
Selamat Sore Pak Boediono,
Setiap kali mendengar paparan tentang ekonomi memang membuat kita lebih bersemangat dan memiliki harapan yang besar untuk menyongsong hari esok yang lebih baik.Tapi yang saya herankan adalah tidak adanya kebijakan untuk orang2 cacat yang sebenarnya cukup banyak di negeri ini dan mereka juga adalah manusia2 Indonesia yang cukup handal di bidangnya.
Mengapa para pemimpin seolah-olah melupakan mereka,cobalah buka mata kita semua,berdayakanlah mereka dengan kebijakan-kebijakan yang bersifat membangun dan mendorong mereka agar dapat hidup sejajar dengan saudara2 mereka yang sehat.Mereka tidak perlu dikasihani,tetapi berilah kesempatan bekerja sesuai dengan kemampuan bekerja masing2.
Saya sendiri adalah orang yang cacat fisik, pernah melamar pekerjaan dan ditolak,padahal menurut pengelola perusahaan nilai2 akademis saya cukup bagus,bahkan menurut pengakuannya sendiri lebih bagus dari yang dia miliki.Lalu saya bertanya,kalau begitu apa penyebab saya tidak diterima,jawabannya ya klasik sekali,kondisi fisik saya yang menjadi pertimbangan beliau.Untunglah saya tidak putus asa dan membuka bimbingan belajar hingga sekarang.
Saya berani memastikan banyak saudara2 saya yang senasib dan hidup (maaf) melarat karena tidak diberi kesempatan kerja seperti pengalaman yang saya alami.Padahal menurtu saya,walaupun saya cacat fisik ( kaki kedua kaki lumpuh dan pakai alat bantu untuk berjalan) tetapi saya cukup mandiri,kalau pekerjaan pembukuan seperti lowongan yang disediakan rasanya saya sangat mampu dan tidak akan mengecewakan dan tidak akan menjadi beban orang lain.Tapi itulah kenyataan pahit yang harus saya terima.Buktinya saya mampu membuka bimbingan belajar hingga sekarang.Dalam ruang ini saya ingin menghimbau Bapak,jika seandainya Bapak terpilih menjadi Presiden tolonglah lebih diperhatikan orang cacat seperti saya ini,usullah ke Presiden untuk membuat Undang-undang tentang kemudahan untuk orang cacat,misalnya mewajibkan perusahaan memperkerjakan orang2 cacat yang benar-benar tegas dan bersifat punishment jika perusahaan tidak menjalankannya dengan konsekuen.Jangan hanya bisa menghimbau dan menghimbau saja.
Untuk anak2 yang menderita kecacatan seharusnya pemerintah wajib memberi kesempatan belajar di akademi,sekolah dan pusat pelatihan secara gratis untuk menjadikan mereka seutuhnya yang tidak tergantung lagi kepada orang lain.Bahkan nantinya mereka akan dapat membuka lapangan pekerjaan untuk orang lain.
Perbanyaklah fasilitas umum untuk orang cacat,karena masyarakat kita sekarang ini sepertinya tidak mempedulikan lagi apakah anda cacat atau sehat.Pengalaman saya, sering kali saya harus adu cepat masuk ke lift di tempat umum dengan orang2 yang sehat fisik.
Terima kasih
ini maksudnya kita yang sekarang banyak2 berhutang ke luar negeri dan nanti anak cucu kita yang kena sengsaranya kelak yah ??
sudah 1700 triliun hutang negara,,,
mau dibayar pake apa? semua sumber daya alam strategis sudah dikuasai asing pak…
Wah saya shock juga dengar berita ini dari detik.com tgl 01/07/09
\Sebagaimana diketahui, berdasarkan data dari Direktorat Pembiayaan Syariah Depkeu, GBK telah digadaikan ke Qatar senilai Rp 25,9 triliun. Penggadaian dikemas dalam bentuk surat berharga berbasis syariah atau sukuk ritel\.
http://www.detiknews.com/read/2009/06/30/204530/1156786/727/prabowo-gelora-bung-karno-digadaikan-dimana-harga-diri-bangsa
5 tahun lagi, istana negara di gadaikan….
[...] Selengkapnya text [...]
Beri Komentar