Malam Minggu Bersama Pak Boed
“Malam mingguan dengan Pak Boed, “ begitu kata Tony Prasetiantono, Kepala Pusat Studi Ekonomi dan Kebijakan Publik UGM; dan Chief Economist Bank Negara Indonesia (BNI), mengenang sosok Boediono, mantan Gubernur Bank Indonesia yang sekarang menjadi calon Wakil Presiden mendampingi Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Tony saat sudah meraih gelar Master dari University of Pennsylvania AS, pernah menjadi asisten Boediono untuk mata kuliah Ekonomi Indonesia, tahun 1994 – 1995.Boediono saat itu sudah menjabat sebagai Direktur Bank Indonesia, dan hanya datang ke Jogja untuk mengajar di akhir pekan. “Saat itu saya masih bujangan, dan bila Pak Boed datang ke Jogja, Sabtu malam saya pasti diundang ke rumahnya, untuk diskusi. Persis orang ngapel pacar. Jamnya dari pukul 7 sampai 9 malam. Hanya kami berdua saja. “Malam mingguan dengan Pak Boed “ kata Tony sambil tersenyum mengenang masa-masa itu.
Meskipun saat menjalani kuliah di Fakultas Ekonomi (sekarang Fakultas Ekonomika dan Bisnis -FEB) UGM, tidak pernah secara langsung menjadi mahasiswa Boediono, Tony mengaku suka “menyelundup” ke kelas yang diampu Boediono. “Mata kuliah ekonomi Indonesia yang saya ikuti diajar oleh Prof.Mubyarto. Tetapi saya dengar dari teman-teman, kelas Pak Boed itu menyenangkan. Jadi saya suka ikut masuk ke kelas Pak Boed,” kata Tony.
Di lingkungan kampus FEB UGM, Tony mengakui bahwa kemampuan akademis Boediono sangat menonjol. “Beliau belajar di kampus-kampus terbaik, latar belakang pendidikan beliau memang hebat dan belum ada tandingannya, “puji Tony.
Sebagai dosen, Boediono juga disukai mahasiswa karena cara mengajarnya dengan bahasa yang sederhana, dan mudah dipahami. “Beliau adalah dosen ideal yang saya bayangkan. Dosen yang bisa menjelaskan sesuatu yang sulit jadi mudah, sehingga kuliah jadi menyenangkan dan mudah diikuti,” lanjut Tony
Hingga kini, Tony mengaku masih berhubungan dengan Boediono meski hanya sebatas sms. “Beliau suka mengirim sms bila membaca tulisan saya yang bagus di media, tapi kalau tulisannya nggak bagus, beliau gak komentar,”kata Tony yang meraih gelar Doktor dari Australian National University ini.
Soal sosok Boediono yang terkenal dengan kesederhanaannya, Tony sendiri punya pengalaman yang masih diingatnya dengan baik. “ Tahun 1991 saat masih kuliah di Pennsylvania, Pak Boed berkunjung ke Philadelphia dengan Ratri (putrinya). Beliau baru saja menghadiri pembukaan Bank Exim cabang London, dimana beliau menjadi komisaris. Saya dan Anggito diajak ke mall di pinggiran kota Philadeplhia. Beliau mencari jas obralan (sale). Yang akhirnya dibeli ternyata jas seharga USD 40, dan kemudian dikenakannya. Beliau memang sangat sederhana,” kata Tony.
Tony mendengar cerita dari para seniornya, bahwa sepulang meraih gelar doktor dari Wharton, tahun 1979, Boediono masih mengajar dengan mengendarai motor. Baru tahun 1981 saat Tony masuk menjadi mahasiswa FE UGM, Boediono sudah mengendarai mobil Kijang kotak, yang kemudian diwariskannya kepada Gunawan Sumodiningrat, koleganya sesama dosen.
Meski dikenal menonjol dan sudah lama berkecimpung di pemerintahan, berita digandengnya Boediono oleh SBY sebagai cawapres, tetap mengejutkan kolega-koleganya di UGM. “Kemampuan akademis beliau memang tak ada tandingannya di kampus. Meski demikian, kami tetap kaget beliau jadi cawapres. Karena beliau tak suka politik, dan faktor usia yang sudah 66 tahun. Saya kira, jabatan Gubernur Bank Indonesia adalah jabatan beliau terakhir di pemerintahan,” kata Tony.
Memang tak semuanya sepaham dengan Boediono, tapi Tony berani mengklaim bahwa 85 persen rekannya di kampus mendukung pencalonan Boediono menjadi wapres, dan merasa bangga. “ Kita yang mendukung sangat excited, ada calon wapres yang relatif dekat dan kita pernah bersama beliau,” lanjut Tony.
Meskipun demikian, Boediono terkenal sebagai pejabat yang bersih dan sangat menghindari nepotisme. Soal hal ini ada guyonan di FEB UGM, “Pak Boed itu sedemikian bersihnya sampai tidak pernah membawa proyek ke UGM., “ kata Tony menirukan guyonan tersebut.
Tony menduga alasan Boediono tersebut semata-mata dilandasi alasan professional, dan memaksa para juniornya di UGM untuk maju dan membangun kapasitasnya sendiri sehingga lebih kokoh dan berkelanjutan. Tanpa harus dibantu olehnya.
Adapun harapan Tony bila Boediono menjabat wapres untuk lima tahun kedepan, adalah dihapuskannya jabatan Menko Perekonomian. Menurut Tony, Boediono ketika menjabat sebagai Menko terkesan kurang memiliki power, karena yang lebih berkuasa adalah Menteri Keuangan.
“Harapan saya struktur yang kemarin bisa dirubah pada pemerintahan mendatang. Sehingga posisi Menko Perekonomian dihapus, dan langsung dipegang oleh wapres. Karena wapresnya memiliki latar belakang ekonomi, mantan menteri yang mengerti teknis, dan dengan menjabat sebagai wapres sekaligus memiliki kekuasaan,” kata Tony.
“Beruntung sekarang posisi itu dipegang rangkap oleh Menkeu. Kabinet berikutnya tak usah ada kementrian menko. Mumpung wapresnya ekonom dengan jam terbang tinggi dan mengerti teknis. Karena sejauh yang saya tahu koordinasi juga susah dilakukan. Karena menteri-menteri merasa punya power masing-masing. Menko langsung saja Menkeu, karena dia yang pegang uang dan koordinasi penggunaan dana. Menkeu sekaligus Menko, saya harap adanya Pak Boed bisa mengurangi bujet satu kementrian. Menko dihapus saja.” saran Tony.
Tony Prasetiantono
Kepala Pusat Studi Ekonomi dan Kebijakan Publik UGM; dan Chief Economist Bank Negara Indonesia (BNI).
*foto : Majalah Esquire





Komentar
1 Komentar
Sebagai rakyat jelata, sy bgt terhenyak mendengar berita SBY resmi memilih Boediono. Yang saya langsung bayangkan adalah seperti apa gundah gulananya para politikus, bahkan spt apa meradangnya orang2 yg sdh menghitung diri bakal dipilih SBY. Disisi lain saya merasa diberi hadiah besar sama SBY atas pemilihan Boediono. HEBAT, decak kagum itulah yang sy keluarkan.
Pilihan SBy telah membuka jalan lebar bagi para ekonom untuk mampu membuktikan bahwa ditangan ekonomlah bangsa ini akan segera maju dan makmur. Sebaliknya bila kelak boediono tepilih, adalah saat pembuktian antara ekonom sbg pembangun bangsa atw ekonom sebagai perusak bangsa.
Dimata awam saya. ekonom Indonesia telah lama dijajah oleh kekuatan lain. Begitu lama ekonom kita dijajah militer. Rezim berganti, ekonom masih dijajah oleh politisi dan parpol. Kini saatnya ekonom bersatu menunjukan kedigdayaannya.(BJ. Habibie hampir mampu menunjukkan kedigdayaan teknologie untuk kemanjuan bangsa). Bersatulah ekonom, satukan visi minimalisir perbedaan. berdebatlah di intern ekonom, jangan di media (krn hanya bikin orang awam makin kusut)Basmi habis orang2 non ekonom yg yang beropini sesat ttg ekonomi. Beri pencerahan kpd rakyat…..
Terus terang, meski sy mulai kurang suka sama SBY (krn kelemahan memilih tim sukses dan jurus mencitraan yg gagal krn berbuah blunder) Tapi saya masih menaruh harapan banyak sama Boediono. Alsan mendasar kenapa saya punya harapan sama Boediono;
1. Boediono ekonom tulen yg tdk terkontaminasi politik (dimata awam saya profesi apapun akan menjadi busuk kalo terkontaminasi politik)
2. Kesederhaan Boediono (meski sy hanya tahu dari tulisan orang2 dekat sejak jaman dulu) itu modal yg paling penting. Krn bagi rakyat, kalo bicara berih dan sederhana adalah urusan tauladan asli, bukan di buat2 menjelang dipilih.
Itu saja ungkapan saya bukan untuk diperdebatkan, tapi untuk dicamkan oleh para ekonom. Harapan saya jangan smp ekonom kalah cerdas oleh rakyat awam dalam menangkap peluang menunjukan ekistensi. Saya akan menguliahkan anak saya di ekonomi jika kali ini ekonom berhasil menunjukan bahwa ekonom paling mampu memakmurkan bangsa ini.
Terimaksih.
Beri Komentar