Ogah Dipimpin Pelanggar HAM!!!
Menjadi pemimpin adalah sebuah tanggungjawab besar yang pasti bukanlah urusan mudah. Bukan orang sembarangan yang bisa menjadi pemimpin terlebih untuk negara dengan jumlah penduduk mencapai ratusan juta. Yang artinya, berpotensi menimbulkan masalah -minimal- ya sejumlah itu juga.
Tetapi ternyata sebagai jelata, memilih pemimpin juga bukan urusan mudah -dan murah. Kita harus punya -minimal- TV supaya bisa mengenali wajah pemimpin pilihan kita pada hari-h pencontrengan. Kita juga mesti berfikir lumayan keras untuk bisa memilah pemimpin mana yang paling sesuai dengan kriteria dan kualifikasi -yang paling mendekati- ideal. Sangat tidak mudah menentukan pemimpin yang paling oke ditengah serbuan banjir iklan politik mulai yang persuasif, narsis, hingga provokatif. Apalagi dengan keterbatasan informasi dan ke-engganan (baca: kemalasan) berfikir yang kerap melanda saya -dan calon-calon pemilih lainnya.
Tidak semua orang memiliki akses terhadap informasi. Saya misalnya, jelata yang nista ini, beruntung sedikit paham bagaimana meng-akses internet. Tahu -meski gak banyak- bagaimana mendapatkan berbagai macam informasi soal apa itu -misalnya-neoliberalisme. Isu yang hanya akan dipahami banyak kalangan -terutama yang memiliki keterbasan mengakses informasi dengan idiom: pokoknya.
Pokoknya neolib itu gak baik. Pokoknya neolib itu akan menyengsarakan rakyat. Pokoknya neolib itu menjual aset-aset negara dan sebagainya. Tanpa pernah tahu, bahwa yang paling “neolib” dengan menjual banyak perusahaan negara adalah yang menyebarkan isu neolib itu sendiri. Salah kaprah. Se-salah dan se-kaprah pengertian neolib itu sendiri.
Tentang pilpres yang akan digelar beberapa hari kedepan. Sampai hari ini -sebenarnya- saya belum menentukan pilihan. Tetapi untuk pilpres kali ini saya memastikan akan memilih. Bukan karena percaya ada seorang (atau sepasang orang) yang mampu membangkitkan dan melanjutkan cita-cita luhur bangsa. Tetapi juga untuk menghindarkan negeri ini dipimpin oleh orang-orang yang pernah terlibat pencederaan HAM berat. Gampangnya, saya akan memilih pasangan yang didalamnya tidak ada komponen pelanggar HAM.
Dengan kriteria tersebut, otomatis hanya tersisa pasangan SBY-Boediono yang layak untuk dipilih. SBY sebagai pemimpin jelas dia punya kharisma tersendiri. Kecermatan dan kehati-hatian dalam mengambil keputusan jelas bukan sebuah kelemahan dimata saya. Tidak seperti tetangga sebelah yang berlantang-lantang dengan slogan: lebih cepat lebih baik. Ya, memang tetangga sebelah itu cepat sekali (baca: agresif) meng-klaim suatu keberhasilan yang sejatinya adalah hasil kerja bersama.
Tentang Boediono, dia adalah sosok yang -menurut saya- rendah hati. Jauh dari masalah, lebih-lebih masalah HAM yang bisa sangat mengerikan. Dia telah menorehkan banyak prestasi, tetapi tak menyibukkan diri dengan berbagai klaim. Dia kalem, rendah hati, dan yang terpenting: bisa bekerja secara jujur tanpa terganggu kepentingan bisnis -baik pribadi maupun keluarganya.
Well, tidak ada manusia yang sempurna, termasuk SBY-Boediono. Mereka bukan yang terbaik yang mampu memimpin negeri ini. Tetapi kadang kita harus memilih meski tak ingin. Untuk saat ini saya percaya SBY-Boediono.





Komentar
8 Komentar
pak budiono semoga sukses jadi pemimpin bangsa,tapi jangan lupakan rakyat jelata
saya juga pastikan saya memilih SBY - Boediono. saya juga tidak ingin di pimpin oleh seseorang yang hanya mengandalkan nama besar bapaknya saja, hanya bisa mengkritik tanpa bisa memberikan solusi terhadap permasalahan bangsa, dan yang hanya memberi angin surga serta janji2 muluk tentang ekonomi kerakyatan yang konsepnya saja tidak jelas.
Saya juga pasti memilih pasangan SBY-BOEDIONO. Pertimbangannya sederhana saja, yakni yang sudah terbukti dan yang sedikit bicara tapi kaya dengan karya!!
setuju….
x ini mang hrs memilih. klo pilpres kemaren golput, tp x ini mang hrs milih SBY boediono. LANJUTKAN.
tp aku nggak suka liat mega yang gaya nya msh arogan dan jg meliat prabowo yang tuk rmh tangga nya aja, dia nggak bisa memimpin, aplg bangsa ini.
Sungguh tulisan menarik, menggugah kita untuk berfikir jernih, memilih pemimpin ideal merupakan hal yang sulit, tetapi saya pribadi menemukan pasangan yang cocok untuk memimpin negeri ini 5 tahun kedepan, masih banyak persoalan, dibutuhkan (calon) pemimpin yang rendah hati, punya track record yang bagus (sejak sekolah, meniti karir, hingga sampai sekarang), untuk itu mari bulatkan tekad bersama, INSYA ALLAH One vote for SBY-BOEDIONO 8 Juli 2009, LANJUTKAN !!!
ck..ck..mata saya baru terbuka lebar…100% tanpa keraguan saya dukung pak sby-budiono….tetangga sebelah ada yang bilang lebih cepat lebih baik tapi kenapa gak mau pemilu 1 putaran?..bukankah 1 putaran itu lebih cepat daripada 2 putaran atau seterusnya?…atau saya yang salah itung?…..
mau 1 putaran, 2 putaran 1000 putaran atau berapapun putarannya saya tetep pilih no.2..
lanjutkan…
Saya pastikan, keluarga besar saya, teman2 baik saya semua pilih SBY-BOED. Saya ga suka lihat pemimpin yg ga legowo, ngambekan,mengandalkan nama bapaknya, pemimpin yg suka cengengesan dan action kyk sinetron. Suka cari2 kesalahan dan gampang berkhianat, orang2 pelanggar HAM. Ga ada wibawanya. Pasti mereka ga bs membawa Indonesia dihargai dimata dunia kyk pak SBY. INDONESIA HARUS DIPIMPIN OLEH PEMIMPIN YANG BISA MENGHARGAI DAN DIHARGAI NEGARA LAIN DI DUNIA.
Pak BOED semoga Bapak bisa setia mendampingi pak SBY. Jangan seperti yang terdahulu. Tugas tidak diselesaikan sibuk untuk kepentingan pribadi dan kelompoknya , tetapi dengan akal bulus mengatas namakan kepentingan rakyat. MUNAFIK !! Tapi saya yakin pak BOED bukan orang seperti itu. Saya suka dengan pembawaan pak SBY-pak BOED yang cool calm berwibawa. Selain pintar tentunya. Itu modal besar seorang pemimpin yang akan bisa membawa Indonesia ke depan lebih baik dan maju.
Beri Komentar