SBY – Boediono Pilihan Tepat dan Aman

Oleh : Eros Djarot , Budayawan, Ketua Umum PNBK
Biasanya, memilih adalah suatu pekerjaan yang tidak mudah. Apalagi dalam kaitan memilih seorang calon pemimpin sebuah bangsa dan negara yang berpenduduk 230 juta. Tapi herannya, untuk kali ini, di Pemilu Pilpres 2009-2014, memilih pasangan Capres dan Cawapres mana yang lebih pantas dan lebih aman untuk dipercayakan memimpin negeri ini sepanjang lima tahun ke depan; dengan mudah telah saya lakukan tanpa menemukan banyak kesulitan. Artinya, menjatuhkan pilihan kepada pasangan SBY-Boediono, ternyata telah saya lakukan dengan cepat. Pertimbangannya, karena hanya pasangan inilah yang menurut saya pribadi sangat memenuhi berbagai persyaratan yang bisa dimasukan dalam kategori: pantas, tepat dan aman.
Mengapa “pantas”? Dipandang dari sudut kualitas, pasangan SBY-Boediono tak sedikitpun perlu diragukan. Tingkat kecerdasan keduanya tergolong prima. Begitu pula tingkat pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki.
Sosok SBY sebagai pemimpin (Presiden), dalam kinerjanya sepanjang hampit lima tahun ini telah membuiktikan dirinya sebagai pemimpin yang sanggup membawa bangsa dan negaranya mampu bertahan dari berbagai cobaan dan krisis – yang sejak awal pemerintahannya hingga saat ini, sangat kaya akan cobaan dan tantangan. Dimulai dengan musibah tsunami yang sangat mengguncang negeri ini, ditambah berbagai bencana alam yang datang bertubi-tubi, toh seorang SBY mampu mengatasi musibah demi musibah dengan tenang, terencana, terkendali dan terpadu dalam sebuah program nasional yang ia kemas hingga bangsa ini dapat bertahan dan bahkan menjadi lebih baik.
Begitu pun saat dunia yang belakangan ini digoncang krisis moneter. Lewat kepemimpinannya, terbukti Indonesia menjadi salah satu negara yang angka pertumbuhan ekonominya dinilai oleh dunia internasional sebagai layak untuk diberikan pujian. Begitu pula halnya dengan pengendalian terhadap berbagai gejolak politik di dalam negeri yang terkadang muncul di sana sini dan menimbulkan berbagai keresahan dan ketegangan. Semua gejolak yang timbul ini telah pula diselesaikan secara baik tanpa harus mengorbankan jiwa maupun tetesan darah anak-anak bangsa di negeri ini – seperti yang sering terjadi di masa pemerintahan sebelum-sebelumnya.
Maka menjadi wajar bila sosok SBY ini kemudian dikategorikan sebagai calon yang “pantas” untuk dipilih kembali oleh rakyat. Bagi mereka yang memahami benar akan hal ini, dengan lantang pasti akan berseru:Lanjutkan!
Bagaimana dengan sosok Boediono?Bagi orang-orang yang mengenal pola pikir dan sepak terjang Boediono selama ini, pasti akan tersenyum dingin pada saat isu-isu neolib sengaja disebar oleh kelompok tertentu dalam rangka mendiskreditkan Boediono sebagai cawapres pendamping SBY. Namun bagi mereka yang sejak lama mengamati kinerja seorang Boediono sebagai ekonom yang di awal tahun 80-an turut aktif berperan merampungkan konsep Ekonomi Pancasila bersama Prof.Mubyarto di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, pastilah akan secara serempak dan kompak memberikan dukungan. Seperti Prof.edi Swasono sang kolega, dengan lantang ia memberi kesaksian bahwa Boediono sebagai ekonom, dia adalah seorang nasionalis – humanis yang berjiwa kerakyatan.
Bahkan sejumlah pakar dan guru besar, antara lain seperti : Prof Singgih Rifat, Prof Gunawan Sumodiningrat, Prof Mudrajad, Dr.Tony Prasetiantono, Dr.Sri Adiningsih, dan Dr.Faisal Basri yang walau tergolong juniornya tapi selalu berpandangan kritis, secara kompak turut pula bersuara lantang, bahwa memilih Boediono sebagai cawapres adalah sikap berani dan langkah brilian dari seorang SBY.
Di sisi lain, catatan panjang mengenai prestasi kerja Boediono sebagai pendidik maupun teknokrat terbukti sangat meyakinkan. Sebagai pendidik ia dinobatkan sebagai profesor yang memang sangat ahli di bidangnya. Sebagai teknokrat, prestasinya sebagai Menteri Keuangan, Menko Perekonomian dan terakhir Gubernur Bank Indonesia, semua dijalaninya dan diselesaikan dengan baik dan tanpa cela ( bebas KKN). Ia bersih, ia jujur, ia cerdas; maka Boediono memang pantas untuk dipilih. Wajar saja bila mereka yang mengetahui siapa Boediono, akan dengan lantang menyerukan kepada bangsa ini, Lanjutkan!
Apakah pasangan SBY-Boediono merupakan pilihan yang tepat dan aman? Dalam kaitan bangsa ini yang tengah mengalami goncangan ekonomi maupun permasalahan ekonomi ke depan, baik yangd atang dari dalam negeri maupun tantangan secara global, maka langkah SBY menunjuk seorang Boediono yang non partisan dan seorang ekonom yang mumpuni, memang sebuah pilihan yang sangat tepat.
Pilihan ini pun bersifat sangat aman karena Boediono yang berasal dari non partai pasti hanya akan bekerja sepenuhnya untuk memikirkan rakyat, bangsa dan negaranya. Ia bekerja tanpa harus berpikir untuk partainya atau menggalang dukungan politik semasa kerja menjadi wakil presiden untuk kelak dapat mencalonkan diri sebagai calon presiden pada pemilu 2014.
Dengan demikian tarik menarik kepentingan seperti yang terjadi akhir-akhir ini antara presiden dan wakil presiden, dipastikan tak akan pernah terjadi. Begitu pula halnya dengan SBY. Bila kelak ia terpilih untuk kedua kalinya, dipastikan dia akan berkonsentrasi penuh dan bekerja siang malam untuk mensejahterakan rakyat, bangsa dan negerinya. Sudah tidak perlu lagi politik pencitraan diri, agar dapat dipilih kembali, karena dua kali menjabat adalah batas maksimum bagi seseorang untuk duduk di kursi nomor satu di Republik ini.
Dengan demikian, pasangan SBY-Boediono dapat dipastikan akan dengan kompak dan bersungguh-sungguh bersatu dalama kerja lima tahun ke depan; membangun Indonesia yang lebih sejahtera, lebih bermartabat, dan lebih berkeadilan.
Wajar lah bila kemudian mayoritas rakyat bangsa ini ramai-ramai menyerukan dengan suara lantang : Lanjutkan! Atas pertimbangan semua ini pula, secara pribadi saya percayakan kepemimpinan kepemimpinan Indonesia 2009-2014 kepada pasangan SBY-Boediono. Akhirnya, dari saya hanya ada satu kata : Lanjutkan!
Dimuat : di Buletin Khusus Gerakan Indonesia Bersatu
sumber foto : http://www.files.pnri.go.id





Komentar
5 Komentar
Saya mulai berpikir tentang hal yang sama dengan Mas Eros, tapi sejujurnya ini mulai menukik ketika pilihan Cawapres adalah Pak Boed, sebagai rakyat saya hanya mengenal Pak Boed dari berita , tulisan-tulisan yang dibuat ,tapi itu cukup memberikan harapan pemerintahan kedepan akan lebih baik Insya Allah. Tapi belakangan ada satu hal yang membuat kening berkerut, isue tentang BPKP yang akan mengaudit KPK yang ternyata Pak SBY membantah memberikan perintah tapi tanpa ada tindak lanjut terhadap Kepala BPKP yang mempunyai inisiatif yang berlebihan, ini menjadi kontraproduktif dengan slogan-slogan menuju dan mewujudkan pemerintahan yang bersih. Semoga hal ini karena kesibukan kampanye pak SBY dan Pak Boed, yang mengakibatkan belum sempat menjewer Kepala BPKP dan semoga sebelum tanggal 8 Juli hal ini sudah clear untuk menguatkan langkah dari rakyat bahwa memilih pasangan ini tidak akan menimbulkan penyesalan di belakang hari. Saya masih memegang janji Satunya kata dan perbuatan dari Cawapres Pak Boediono,
Terus terang saya sering gemas dan geli sendiri melihat begitu banyak sandiwara yang sodorkan kepada publik setiap saat seraya berpikir masyarakat tidak dapat berpikir dan menyimpulkan. Memang agak basi tetapi masih relevan mengenai rencana audit BPKP terhadap institusi KPK. Saya mau bertanya: APA YANG SALAH DAN DITAKUTKAN JIKA KPK DIAUDIT? Seharusnya Pak SBY-Boediono tidak takut hal ini menjadi bumerang pada pilpres yang lalu, terbukti kan?. Kalo memang undang-undang tidak mengamanatkan adanya kontrol terhadap KPK, terus siapa yang akan menjamin tugas KPK sudah dijalankan dengan semestinya? Memang setiap alat kontrol harus proporsional dan sesuai dengan peruntukannnya, jangan audit keuangan mengeluarkan rekomendasi penyelesaian penyidikan tentunya. Kedepan, pemerintah yang akan terbentuk nanti harus dapat membedakan mana politik mana polemik. Kehadiran seorang ekonom tulen sebagai wakil presiden tidak semata-mata bisa mengurusi masalah ekonomi. Banyak hal yang masih harus diperbaiki, yang INTINYA ADALAH MEMANFAATKAN POTENSI CULTURAL BANGSA INI DALAM USAHA MEMAJUKAN BANGSA YANG LEBIH MANDIRI. Secara kelembagaan sudah menggunung jumlahnya tetapi coba kita liat ada keterkaitan antar data tidak? misalnya. Banyak kebohongan publik yang dapat diperbaiki dengan pendekatan cultural dan keterbukaan seperti ujaran Pak Boediono : Kesamaan kata dengan Perbuatan. Namun harus diingat pembuktian nanti tidak sebatas pengiklanan akitivitas bak selebriti. Namun berorientasi pada perbaikan dan pemerataan.
…..(Bersambung karena harus kerja dulu…hehehe)
terima kasih.
Salut dengan pasangan SBY-Boediono, semoga Indonesia bakal lebih maju lagi, SBY-Boediono lanjutkan!
[...] & Boediono = SBY BERBUDI. Terkesan SBY punya nurani dan tak bermental [...]
Menyenangkan sekali bercerita tentang pemimpin,seperti ungkapan Pak Eros bahwa Pak Boediono yang berasal dari non partai pasti hanya akan bekerja sepenuhnya untuk memikirkan rakyat, bangsa dan negaranya.Hal tersebut melatarbelakangi profil saya sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) di lapisan staf dengan masa kerja 16 tahun. Saya selalu bertanya.. tentang prosedur birokrasi yang membangun secara murni tanpa deskriminasi politis. Intinya adalah jiwa membangun bangsa ini terletak pada para pemimpin, tapi bagaimana bila pemimpin tersebut tidak mampu mengakomodir dalam suatu program perencanaan pelaksanaan untuk mencapai tujuan (membangun bangsa).. Tentu menyedihkan.
Sebagaimana filsafat Ing ngarso sun tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani. kan harus ada dalam jiwa pemimpin sehingga ungkapan Pak Eros tadi bisa terwujud.
Permasalahannya adalah kebakaran besar itu berawal dari api yang kecil. Pemimpin seperti Pak Boediono adalah pemimpin besar, bagaimana dengan pemimpin kecil???
Dalam hal ini saya mohon maaf untuk bertanya,, dalam sistem pemerintahan sepertinya para pejabat yang menduduki jabatan banyak yang hanya mengandalkan pangkat atau golongan, gelar bahkan koneksi. dan sepertinya model pemerintahan kita seperti itu. Dari dulu punya pangkat, punya golongan, punya gelar, punya koneksi dijamin bisa menduduki jabatan untuk menentukan kebijakan atau keputusan. WALAUPUN TIDAK PUNYA KEMAMPUAN DI BIDANG KERJA. padahal dalam membangun bangsa ini KEMAMPUAN adalah faktor utama. Apa ini masih jaman dulu juga. Bisa kah bangsa dan negara ini merubah sistem perekrutan pemimpin kecil terutama yang di daerah propinsi melalui pendaftaran UJI KOMPETENSI DAN KELAYAKAN???. karena di daerah saya terdapat pemimpin yang sedang sakit atau sering sakit-sakitan tapi masih memimpin. Bagaimana rasanya dipimpin oleh orang sakit.
Demikian saya menyampaikan, semoga para pemimpin bangsa dan negara ini juga mempunyai KEMAMPUAN dalam merubah sistem perekrutan pemimpin kecil yang sesuai bidang dan kemampuan bekerja.
Beri Komentar