Keluarga

herawati-boediono

Kumpulan jawaban dari Herawati Boediono, isteri dari calon wakil presiden pasangan calon presiden SBY, Boediono tentang berbagai hal.

Tentang pendapat kalangan masyarakat Indonesia yang menilai dirinya nonmuslim:

Orang yang mengatakan saya Katolik, itu salah. Tapi biarkan saja. Saya menghormati mereka, termasuk mereka yang berpakaian muslim dan berjilbab. Kalau masalah jilbab urusan saya, yang tahu sendiri. Setiap hari saya, bapak dan anak-anak saya selalu melaksanakan salat 5 kali dalam sehari. Dan tidak jarang kami melakukannya bersama-sama, kalau bapak sedang ada di rumah.

Tentang pemakaian busana kerudung pada media kampanye dan isu neoliberal:

Untuk kampanye, jika saya diminta untuk menggunakan jilbab dalam pengambilan gambar untuk spanduk atau baliho, saya serahkan kepada tim sukses. Terserah kepada tim sukses. Saya mendukung saja tim sukses bapak dan apa yang bapak kerjakan. Sedangkan untuk masalah neoliberal, pertanyaan itu bukan kewajiban saya untuk menjawabnya, tapi suami saya.

Tentang pencalonan Boediono sebagai wakil presiden mendampingi SBY:

Saya pada awalnya tak setuju suami saya maju sebagai calon wakil presiden. Apa, sih, yang dicari?. Anak sulung saya saya (Ratri) juga pada awalnya tidak setuju. Setelah dijelaskan bahwa niat Bapak adalah untuk mengabdi pada bangsa dan negara, saya langsung setuju. Saya yakin, suami saya tidak akan kerja setengah-setengah.

Tentang yang terlintas di benak saat suami mengabarkan diminta SBY sebagai cawapres:

Yang jelas, kaget. Saya tidak menyangka. Saya sempat terdiam lalu bertanya Bapak mau cari apa lagi? Kok, pindah-pindah? Jawabannya, enggak cari apa-apa, cuma mau menyumbangkan tenaga dan pikiran buat bangsa dan negara bersama teman-teman lain agar Indonesia lebih baik. Jujur saja, saya perlu waktu buat merenung. Begitu juga suami. beberapa hari kemudian, saya katakan, Kalau memang sanggup jadi wapres, kerjakan. Tapi jangan setengah-setengah. Eh, dia masih menjawab Yah, nanti saya pikir lagi.

Tentang suami tipe pekerja keras:

Itulah. Saya mengizinkan karena tahu suami saya kalau kerja tak pernah setengah-setengah. Apa pun orang bilang, yang penting dia jujur. Anak-anak juga setuju.

Tentang persiapan jadi istri cawapres:

Enggak ada persiapan apa-apa. Menyiapkan mental saja. Biasalah, setiap keputusan pasti ada pro dan kontra.

Tentang anggapan bahwa Boediono Neoliberal:

Ya. Itu hak mereka menilai, mendemo, asal cara menyampaikan kritiknya santun. Kebebasan pendapat di Indonesia bagus, boleh, asal penyampaiannya masih dalam aturan.

Tentang meningkatnya kesibukan:

Kesibukannya belum banyak. Paling melayani permintaan wawancara dari para wartawan. Kalau dulu, enggak ada yang minta wawancara. Kegiatan saya sebelumnya, kan, jadi bendahara Dekranas. Main tenis seminggu tiga kali bersama istri pegawai BI. Mereka baik-baik, lho. Di komplek perumahan saya tinggal, paling banter, ya, kumpul dengan ibu-ibu satu RT setiap bulan. Acaranya paling cerita-cerita, lalu ada pengumuman kegiatan kampung. Warga di sini kompak. Setiap hari raya, ada Syawalan bersama.

Tentang rumah yang ditinggali sekarang:

Kami tinggal di sini sejak 1998. Sebelumnya, keliling. Pernah di kompleks menteri, lalu di Komplek BI Rasamala. Rumah yang saya tinggali ini pun rumah dinas dari BI. Sekarang dalam proses kami beli. Kalau Bapak terpilih, saya akan tetap ikut kumpul-kumpul warga di perumahan sini. Mungkin Sabtu dan Minggu saya akan kembali ke rumah ini atau sebulan sekali pas kumpulan.

Tentang membuatkan makanan untuk suami:

Saya enggak bisa masak. Tiap hari pembantu yang masak. Suami saya sudah tahu sejak awal, kok, jadi enggak pernah komplain. Kami makan apa saja yang dimasak pembantu. Pembantu juga yang bikin minuman kunyit asam kesukaan Pak Boed. Saya cuma kasih resepnya.

Tentang kisah asmara dengan suami:

Kami tetanggaan di Blitar (Jatim). Rumah dia di Jl. Wahidin no 6, saya no 32. Kami berteman sejak SD, kadang berangkat sekolah bersama. Sampai SMA, kami masih berteman baik. Saya tidak tahu sejak kapan dia naksir saya. Yang jelas, setelah lulus SMA, dia langsung kuliah di UGM, Yogya. Tahun kedua kuliah, dapat beasiswa Colombo Plan ke Australia.

Waktu itu, saya baru lulus SMA lalu kuliah di Fakultas Ekonomi Airlangga. Saat itulah kami mulai surat-suratan. Dia yang kirim duluan. Isinya, paling cerita tentang suasana Kota Perth dan kampusnya. Saya enggak menyangka kalau ditaksir. Kan, dia kuliah di Australia.

Tentang kapan suami menyatakan “I love you”:

He he he. Dua tahun kemudian, setelah beberapa kali kirim surat. Di salah satu suratnya, dia tanya ke saya, Mau enggak menemani hidup saya? Saya jawab, Mau. Itu sekitar tahun 1964. Surat-suratnya masih saya simpan rapi, lho, sampai sekarang. Dulu, sih, sempat saya simpan di besek (wadah dari anyaman bambu) bersama surat dari beberapa teman pria lain. Tapi setelah pasti dengan dia, surat lainnya itu saya singkirkan. Sampai sekarang suratnya masih saya simpan di rumah kami di Sawitsari, Yogya.

Tentang mengapa jatuh hati dengan suami:

Orangnya tenang sejak kecil. Enggak banyak omong. Sifatnya baik. Dia sangat memperhatikan kehidupan keluarganya. Sejak SMA, dia rajin membantu ibunya buka-tutup toko. Waktu itu, ibunya Pak Boed jualan baju, kain batik, sarung. Saya perhatikan, laki-laki, kok, mau-maunya buka-tutup toko. Padahal, biasanya anak laki-laki, kan, sulit disuruh seperti itu.

Tentang apa yang menyebabkan suami jatuh hati:

Enggak tahu. Mungkin cerewetnya saya ini, ha ha. Kami menikah tahun 1969. Saya biasanya yang mencairkan suasana. Kalau Bapak sehari diam saja, sering saya goda supaya senyum.

Tentang gaji suami yang besar tapi hidup sederhana:

Karena sejak kecil dia memang bersahaja. Jadi, kalau disuruh yang aneh-aneh, ya, susah. Memang kami ada uang tapi dia tidak aneh-aneh. Pertama kali kerja, di Bank of Amerika, Jakarta, semua gajinya diberi ke saya, bruk. Kalau dia mau beli baju, minta uang sama saya. Padahal, saya tak pernah minta seperti itu.

Sampai sekarang juga begitu. Bedanya, sekarang semua uang disimpan di bank. Jadi, kalau saya perlu, ya, ambil seperlunya saja. Dia enggak pernah ngecek pengeluaran saya. Dia sangat percaya pada saya. Jadi, saya harus hati-hati. Tidak boleh boros. Anehnya, dia enggak pernah tanya, uangnya habis atau belum. Saya juga tahu diri. Setiap mau beli barang besar, misalnya mobil atau tanah, minta persetujuan dulu.

Tentang hadiah dari suami saat ultah atau ultah perkawinan:

Enggak! Hadiahnya disuruh beli sendiri, wong uangnya ada di saya, ha ha ha. Tiap kali saya ulang tahun, dia memang selalu ingat. Paling kasih ucapan selamat, sebab hari ulang tahun adalah hari biasa. Jadi, hadiahnya cukup ciuman, lalu makan di luar bersama anak-anak dan cucu-cucu. Saya juga begitu kalau dia ultah.

Di luar ultah, hadiah kecil-kecilan biasanya diberikan kalau dia pulang dari luar kota. Itu pun kalau sempat membelikan. Kadang saya dibelikan baju, tas, atau perhiasan. Tapi bukan emas, lho.

Tentang hobi :

Saya suka membaca dan menjahit. Ini, celana panjang yang saya pakai, hasil jahitan sendiri. Saya pernah belajar menjahit tapi tidak selesai. Kadang baju saya dijahit oleh penjahit di Meruya. Namanya Ibu Sugiarto. Saya tidak pernah pakai desainer ternama.

Tentang pilihan menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya:

Waktu saya kuliah, terjadi peristiwa G30S/PKI. Saya kasihan sama ibu yang kirim uang terus tapi enggak ada perkuliahan di kampus. Lalu saya coba cari kerja dan dapat di BRI Blitar. Sejak itu, saya kerja. Tahun 1969 menikah dengan Pak Boed dan sejak itu waktu sepenuhnya buat mengurus suami dan anak.

Tentang gaya mendidik anak-anak:

Mengalir begitu saja. Titik beratnya, kalau dari saya, soal sopan santun. Kalau Pak Boed, masalah disiplin. Dulu, waktu anak-anak masih kecil, dia suka menunggui belajar atau bikin PR. Anak-anak sampai sekarang juga hidup sederhana. Mereka melihat orangtuanya begitu, ya, langsung mencontoh saja. Bapak tidak pernah marah, apalagi sama anak-anaknya. Sekarang keduanya sudah berumah tangga. Yang sulung tinggal di Singapura, yang kecil di Jakarta Selatan. Cucu kami sudah lima, lho.

Tentang suami yang suka bermain bersama cucu-cucu:

Biar sibuk, pulang kantor capek, ya, tetap main sama cucu-cucu. Malah dapat kesegaran baru. Dia paling suka melihat cucu-cucunya. Sampai sekarang pun, kalau cucunya datang, diajak main. Kadang main kuda-kudaan. Cucunya naik di punggung dia, lalu Pak Boed jalan merangkak. Saking cintanya sama cucu, dia sering beli mainan.

Dulu, waktu anak pertama kami mau melahirkan di Singapura, Pak Boed ambil cuti dan enggak sabar ingin lihat cucu pertamanya. Dari bandara, kami langsung ke rumah sakit. Makanya, kalau ada tugas di Singapura, dia lebih suka tidur di rumah anak kami ketimbang di hotel. Selain hemat uang negara, juga bisa ketemu cucu-cucunya.

Tentang kegiatan suami setelah bangun tidur:

Ya, salat. Beribadah. Lalu olah raga, mandi di kantor, langsung kerja. Pak Boed memilih sendiri pakaian kantornya. Saya cuma mengamati saja. Kalau misalnya celana panjangnya tidak pas dengan kaos kakinya, ya, saya serasikan.

Sejujurnya, Pak Boed terlihat bahagia tinggal di mana? Kayaknya di Yogya. Saya lihat, di pagi hari dia suka membaca sembari berjemur matahari, setelah itu masuk ke rumah. Di Jakarta, mana mungkin bisa dilakukan. Semasa di Yogya, dia sembari tidur mendengarkan siaran wayang di radio atau dengar musik, main gitar.

Tentang kedekatan dengan Ibu Ani Yudhoyono:

Secara pribadi, belum kenal dekat. Saya mengenalnya karena dulu jadi istri menteri, sementara Bu Ani istri Presiden. Setelah deklarasi pun, belum pernah telepon-teleponan. Pilpresnya, kan, belum.

Catatan: Herawati sejak kecil dipanggil Herti oleh orangtuanya. Ia adalah anak ke-4 dari lima bersaudara. Ayahnya, (alm) Imam Suwignyo, Kepala Pekerjaan Umum Kabupaten Blitar dan ibunya guru menjahit di Sekolah Kejuruan Pertama, Blitar. Saudara kandung Hera semua pensiunan PNS.

Dikumpulkan dari berbagai sumber, foto atas ijin wisnu nugroho.  Red.


Simpan dalam bentuk pdf
Bookmark and Share
 

You need to log in to vote

The blog owner requires users to be logged in to be able to vote for this post.

Alternatively, if you do not have an account yet you can create one here.

Powered by Vote It Up