Transformasi dan Kelompok Pembaharu
Our greatest challange is to transform - not just change - Indonesia. SBY

Sejarah menunjukan bahwa keberhasilan proses transformasi menuju masyarakat yang makmur, demokratis, dan terbuka ditentukan oleh keberadaan kelompok pembaharu.
Kelompok inilah yang menjadi ujung tombak dan pengawal proses transformasi itu. Tanpa mereka, proses transformasi akan beresiko mandek atau keluar dari jalur yang kita inginkan.
Pertumbuhan ekonomi akan membantu tumbuhnya kelompok pembaharu, tetapi dengan dua syarat, yaitu : (1) pertumbuhan itu menyentuh dan dapat dinikmati oleh sebagian besar rakyat (broad based), dan (2) prosesnya lebih mengandalkan kegiatan berdasarkan hasil kerja, inisiatif dan ingenuitas sumber daya manusianya, dan BUKAN semata mengandalkan hasil penjualan kekayaan alam, bantuan luar negeri, atau rejeki nomplok lainnya. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi saja tidak cukup. Dua syarat itu harus dipenuhi.
Siapa saja kelompok pembaharu itu dan apa peran mereka dalam proses transformasi? Sejarah mencatat, kelompok ini bisa datang dari latar belakang sosial yang berbeda. Di Inggris inti kelompok pembaharu adalah pengusaha. … Di Jerman justru kaum birokrat. Di Jepang, cikal bakalnya adalah kaum samurai yang mentransformasikan diri menjadi penggerak modernisasi.
Bagi negara berkembang, barangkali akan terlalu lama menunggu terbentuknya kelompok pembaharu secara alamiah seperti di negara-negara tersebut. Seyogyanya juga tidak mengandalkan pada satu atau dua kelompok sosialnya saja. Jadi, yang terbaik adalah mendorong terbentuknya koalisi luas, yang terdiri atas para demokrat dari semua segmen sosial.
Kelompok pembaharu ini dapat meliputi unsur-unsur reformis dari kaum pengusaha, intelektual, profesional, birokrat, pemuda, aktivis LSM, dan lain-lain.
Mereka diikat oleh kesamaan platform, yaitu memperjuangkan nilai-nilai demokrasi seperti hak asasi manusia, keterbukaan, kebebasan berusaha, good governance, rule of law, dan sebagainya.
Di sebagian negara berkembang, termasuk Indonesia, kelompok macam ini sudah mulai terbentuk dan berperan, meskipun masih terbatas. Mereka adalah elemen strategis dalam proses modernisasi dan demokratisasi.
Apakah anda termasuk kelompok pembaharu ?
Tulisan ini juga dimuat di : Politikana.com





Komentar
8 Komentar
Pak Boed,
Saya ingin sekali menyebut diri saya sebagai seorang pembaharu (seperti yang bapak definisikan) dan pasti banyak teman-teman lain yang ingin bergabung menjadi kelompok pembaharu. Tapi kok kemudian saya sendiri yang jadi bingung, kalau sudah (mengaku) jadi pembaharu. Definisi bapak masih terlalu umum dan abstrak. Jadi sebenarnya apa yang saya (kita) bisa lakukan ??
Mungkin hal ini yang bisa bapak atau teman-teman blogger bisa jawab dan bahas ..
Terimakasih
Kita bisa menjadi pembaharu dalam bidang apa saja.
Ibu Prita salah satu contohnya.
Meskipun diancam dengan penjara, ibu Prita menggugat kembali RS OMNI Internasional.
Tindakan ibu Prita akan menimbulkan efek pembaharuan kepada masyarakat secara umum dan kepada rumah sakit2 lain secara khusus.
Rumah sakit akan mulai berhati2 dan membenahi sistem internal mereka. Sehingga kejadian seperti itu tidak akan terulang kembali.
Ibu Prita telah mengirimkan PESAN kepada seluruh rakyat dan kepada RS OMNI.
Kamu bisa juga melakukan hal yang sama seperti yang diperlakukan ibu Prita itu.
Kalau kamu melihat ada kejanggalan di dalam pemerintahan, jangan segan dan takut untuk melawannya.
Kalau anda lihat betapa sulitnya mendirikan izin usaha, anda boleh saja melakukan pembaharuan.
Anda boleh melaporkan ke dinas terkait, atau bahkan ke pengadilan bahwa anda merasa dirugikan dengan service mereka. Pejabat sipil dibayar oleh pajak anda. Mereka digaji untuk menservice anda. Jadi anda jangan takut untuk komplain.
Ketika anda membawa hal ini ke pengadilan, mata mereka akan menjadi terbuka. Mereka akan segera bebenah diri. Memperbaiki sistem internal mereka. dll.
Itu adalah salah satu contoh pembaharuan.
Kalau kalian melihat ada tindakan kurang sesuai dari anggota polisi, anda bisa bertindak, jangan diam saja.
Itulah pembaharuan.
Salam
Fechri
Setuju, saya mau ikut jadi kaum pembaharu itu, terima kasih pak Boed, tulisannya bagus.
seperti apa yg dikatakan Darwin :
“Bukan spesies terpandai yang bertahan hidup, bukan pula yang terkuat, tapi yang responsif terhadap perubahan.”
apakah Indonesia siap mengalami perubahan dan pembaharuan, mengingat kebiasaan negatif bangsa ini sudah mengakar?
Butuh juga kemauan politis partai-partai politik untuk mengakomodasi dan mengedepankan wajah baru yang memiliki wawasan pembaharuan. Jangan muka lama terus yang dimajukan.
Dalam pilpres ini pak Boed adalah satu2nya wajah baru, karenanya harapan kami sungguh2 ada pembaharuan yang nyata.. bukan sekedar dari indikator ekonomi tapi juga dari pemikiran dan wawasan berbangsa dan bernegara.
yang kita butuhkan adalah kaum muda yang berani melawan budaya negatif bangsa seperti KKN dan pungli..
jangan malah ikut2an karena “sudah aturan lama”
tulisan ini sangat bagus pak….apalagi kalo memang bapak terpilih dan bisa mengawal pelaksanaannya.
maju terus pak, negeri ini memang butuh pembaharuan ekonomi secara menyeluruh walau dilakukan secara bertahap dan berjenjang.
[...] Selengkapnya text [...]
Beri Komentar