Trisno Sutanto : Kagum, Tapi Tak Berharap Banyak

Sumber Foto : islamlib.com
“Saya tak mengenal Pak Boediono sama sekali, ketika SBY memilih dia, saya terkejut. Diluar dugaan semua kalangan. Tetapi saya suka ketika Pak Boediono memberikan sambutan di Stovia, saya tak bisa datang. Saya hanya membaca dari teman-teman, tapi sambutan itu menyentuh hal-hal yang cukup mendasar. Dan saya kagum sekaligus heran kok parpol-parpol justru tidak menyentuh, masalah ini. Orang non parpol yang berani menyentuh soal-soal itu,” kata Trisno Sutanto, Direktur Program Masyarakat Dialog Antar Agama (MADIA).
“Mungkin karena pengalaman Pak Boediono sebagai ekonom dan melihat realitas masyarakat secara jernih, tanpa pengaruh idelogis dan lain-lain. Kemajemukan masyarakat dia lihat sebagai sesuatu potensi yang luar biasa di dalam pidato dia itu. Itu yang membuat saya terkesan,” lanjut Trisno. Meski begitu, Trisno mengaku tak bisa berharap banyak pada sosok Boediono, karena posisinya sebagai wakil presiden.
Trisno mengingatkan bahwa berdasarkan pengalaman tahun 2004, dimana Pak SBY terpilih secara langsung itu juga tidak memberi jaminan bahwa Pak SBY berani mengambil tindakan tegas dan menarik garis tegas untuk persoalan-persoalan pluralisme. “Ada kesan yang kuat sekali bagaimana Pak SBY seperti menjaga citra. Dengan preseden seperti itu, apakah nanti wakil presiden akan mampu? Itu pertanyaan, karena latar belakang Pak Boediono, pasti akan membuat Pak Boediono lebih mengurusi persoalan-persoalan ekonomi ketimbang masalah-masalah yang sangat mendasar ini,” kata Trisno lagi.
“Jadi kalau saya harus bicara atas nama minoritas, disini saya meragukan, walau saya suka. Figur Pak Boediono sendiri menarik bagi saya. Saya kebetulan juga hadir saat launching buku itu. Dan saya suka dengan figurnya. Seorang intelektual, professor, punya integritas ilmiah yang berani dipertahankan. Itu membuat saya kagum,” kata Trisno saat ditemui di Salihara, Sabtu 20 Juni 2009.
Trisno mempermasalahkan soal langkah mengambil keputusan-keputusan yang mendasar terkait dengan kapasitas SBY sebagai calon presiden pasangan Boediono.” Dan terus terang saya meragukan pak SBY dalam soal mengambil keputusan itu. Debat capres kemarin juga begitu. Itu kesan yang saya terima, termasuk soal Lapindo. Apalagi untuk masalah-masalah pluralisme, penutupan gereja. Sebagai presiden dia harus mengayomi semua orang dan dia harus mengambil tindakan. Kombinasi ini yang menjadi masalah untuk saya,” ujar Trisno.
“Mungkin Pak Boediono akan berempati dengan masalah-masalah yang ada, tapi ketika harus mengambil keputusan, sebagai wakil presiden mau tidak mau akan tergantung presiden. Ini yang menjadi masalah untuk saya. Itu yang saya lihat, masalah kombinasi ini. Saya cukup salut pak SBY berani mengambil langkah memilih figur Boediono, dan itu salah satu poin tambahan bagi pak SBY,” kata Trisno.
Tapi, sebagai orang non partai, Trisno menilai Boediono yang birokrat dan teknokrat tidak punya basis politik yang kuat. “Pasti basis politiknya di tangan SBY, apalagi kemarin Partai Demokrat menang, ini akan mengurangi rasa percaya diri Pak Boediono untuk mengambil langkah-langkah dasar. Terpaksa harus menunggu Pak SBY dulu, baru dia berani mengambil tindakan. Bagi saya Ini akan complicated. Kecuali Pak SBY sudah siap mengambil tindakan lebih tegas”.
“Menurut saya, pasangan ini punya harapan besar. Apa sih yang kurang dari Pak SBY, dia dipilih langsung, dia punya mandat kuat sekali. Tahun 2004 itu dia punya mandat luar biasa. Tapi dalam beberapa kasus, dia enggan mengambil keputusan. Sulit dong. Sudah saatnya lah, jangan berpikir terus, tapi bertindak,” pungkasnya.





Komentar
3 Komentar
Mandat memang kuat Pak Trisno, tapi ingat DPR/MPR sangat menentukan juga. Sementara dukungan di DPR dari Demokrat sangat tipis
Berapa kali Pak SBY mau di jegal dengan angket lah apalah…
Itulah kedewasaan Pak SBY tidak mau hantam kromo, main pelan-pelan dan cantik yang penting tujuan mensejahterakan rakyat tercapai
saya kira Mas Boediono naik sudah bisa di prediksi dua bulan sblm Cawapres digodog,negara ini membutuhkan Ekonom yg negarawan. Nation and Character Building itu makanan yg susah dicerna. Jadi buat saja pembangunan berkesinambungan dengan skala prioritas tinggi untuk lebih dari 100 Daerah yg sangat tertinggal or pernah dibiarkan/ditelantarkan. Wilayah Timur harus dilirik dan dibidik tepat dan dengan implementasi cepat,mereka sudah enggan menunggu terlalu lama lagi.Kalau ini masih terabaikan juga tidak sampai 5 tahun lagi kita akan terbelit masalah POLEKSOSBUDKAMNAS yang rawan sekali dan akan mengganggu stabilitas dan kepercayaan MNC maupun PMDN.
Saran saya, jangan terpana/terganjal dengan Konsep Para Pendahulu Bangsa kita yang ingin Negara ini begini dan bukan begitu,itu konsep JADUL yang sudah Obsolete dan tidak sesuai dengan Dinamika pembangunan Nasional maupun Internasional.Generasi yang saat ini berusia 60 an pasti pernah mengalami ketidak nyamanan kesejahteraan Sosial sejak 1959 till 1965. Karena jargon waktu itu adalah Politik diatas segala-galanya,sehingga konsep Pembangunan Ekonomi dan Kesejahteraan Bangsa menjadi terabaikan dan terjadi PENDEWAAN KEPEMIMPINAN yang effeknya berlarut-larut.
Jadi nasib Bangsa ini harus dijalankan secara bijak dengan sistem modern dan kompetitif tanpa menanggalkan Identitas Dasar yang memang perlu sebagai faktor pengikat. Dan yang lebih utama adalah Agregat Ekonomi Daerah harus dimaksimalkan dan harus menciptakan lapangan kerja yang interaktif/saling mengisi sehingga
terjadi sinergi. Jadi konsep Trickle down effect pada kondisi semacam ini tidak begitu dominan lagi,karena semua unsur secara pro-rata mempunyai kesempatan sama dan DISINILAH PASAR akan MENGAKOMODIR PRODUK mereka melalui Industri Kecil- Menengah -dan Besar.
Beri Komentar